Banyak Orang Mengunyah Permen Karet Saat Stres, Ini Penjelasan Medis di Baliknya

Banyak Orang Mengunyah Permen Karet Saat Stres, Ini Penjelasan Medis di Baliknya

Mengunyah Permen Karet--Foto: Today's Dental

Masalahnya, bagaimana semua itu terjadi masih jadi teka-teki. "Bagaimana Anda pergi dari ketegangan otot ke stimulasi saraf ke perubahan yang terjadi di otak?" kata Smith. Jawabannya belum ditemukan. Padahal, jika mekanismenya jelas, mengunyah bisa menjadi saran murah dan mudah bagi mereka yang cemas atau sedang diuji.

Berbagai teori pun bermunculan. Ada yang menyebut aliran darah ke otak meningkat. Ada pula yang menyoroti aktivasi otot wajah. Teori lain melihat mengunyah sebagai cara mengalihkan perhatian dari stres, memengaruhi sistem respons stres tubuh. Pengukuran hormon kortisol menunjukkan hasil campur aduk. Kadang naik, kadang turun, terutama di pagi hari.

Sebagian ilmuwan mengaitkannya dengan evolusi. Banyak hewan mengunyah saat stres. Tapi Adam van Casteren justru berkata sebaliknya. Manusia modern mengunyah jauh lebih sedikit dibanding primata lain. Simpanse bisa mengunyah hingga lima jam sehari. Gorila bahkan enam. Manusia rata-rata hanya 35 menit.

Menurutnya, daya tarik permen karet bukan soal nostalgia manusia purba. "Manusia hanya suka melakukan hal-hal yang berulang," katanya. Ia sendiri mengaku sering menggerakkan kaki saat berpikir.

Kebiasaan itu mirip mengetuk meja, meremas bola stres, atau mengklik pena. Studi tentang kegelisahan menunjukkan gerakan kecil membantu orang bertahan dalam tugas panjang dan rapat membosankan. 

Penelitian lain pada anak-anak dengan ADHD bahkan menemukan bahwa mereka yang lebih banyak bergerak justru tampil lebih baik.

Matthews melihat permen karet sebagai kegelisahan yang jinak dan terfokus di mulut. Ia menyamakannya dengan berjalan sambil berpikir. “Ada sesuatu untuk dikunyah di mana Anda dapat memproses hal-hal secara pasif,” katanya. Tak heran jika ruminasi berarti mengunyah dan memikirkan sesuatu.

Meski bisnis permen karet sedang seret, kebiasaan ini tampaknya tak akan hilang.

"Dari perspektif fisiologis murni, mengunyah sesuatu tanpa menelan tidak ada gunanya," tulis Karl Ove Knausgaard. Tapi, ia lalu jujur pada dirinya sendiri. Ia tak bisa menulis tanpa Juicy Fruit di mulutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share

Berita Terkait