Banyak Orang Mengunyah Permen Karet Saat Stres, Ini Penjelasan Medis di Baliknya
Mengunyah Permen Karet--Foto: Today's Dental
Di sinilah Wrigley masuk panggung. Ia semula menjual sabun dan soda kue. Permen karet hanya bonus pembelian. Tapi menjelang 1890-an, ia sadar satu hal. Bonus itu justru lebih diburu daripada barang utamanya. Sejak saat itu, ia banting setir. Fokus penuh ke Permen karet.
"William Wrigley, di antara banyak hal, adalah seorang jenius pemasaran," kata Jennifer Matthews, antropolog yang meneliti sejarah chicle.
Wrigley membentangkan papan reklame sepanjang bermil-mil. Ia bahkan nekat mengirim sebatang permen karet ke setiap alamat yang tercantum di buku telepon Amerika.
Popularitas permen karet meledak di awal abad ke-20. Sampai-sampai memancing kecaman. Seorang jurnalis pada 1906 menggambarkan perempuan-perempuan muda di kereta yang mengunyah "dengan ketulusan yang menyedihkan, seperti begitu banyak sapi di kandang".
Wali Kota New York saat itu, Fiorello La Guardia, bahkan meminta perusahaan permen karet turun tangan karena jalanan dipenuhi sisa permen yang ditempelkan sembarangan.
Perang Dunia I menjadi panggung berikutnya. Wrigley mendekati militer Amerika Serikat dan menawarkan permen karet sebagai bagian dari ransum tentara. Alasannya bukan cuma soal gigi atau rasa lapar. "Ketika Anda gugup, Anda dapat mengunyahnya," kata Matthews. Militer percaya. Sejak itu, permen karet rutin masuk ransum tentara dan menyebar ke berbagai penjuru dunia.
Seiring penyebarannya, cerita soal khasiat permen karet ikut membesar. Pada 1916, sebuah tulisan mempromosikannya dengan kalimat berulang-ulang. "Apakah Anda khawatir? Kunyah permen karet. Apakah kamu berbaring terjaga di malam hari? Kunyah permen karet. Apakah kamu depresi? Apakah dunia menentangmu? Kunyah permen karet." Gagasan itu awet.
Studi pada 1940-an menemukan pengunyah permen karet memiliki ketegangan lebih rendah. Alasannya belum jelas. Tapi kesimpulannya lugas. "Pengunyah permen karet rileks dan menyelesaikan lebih banyak pekerjaan."
Warisan cara berpikir itu bertahan hingga era modern. Pada 2006, Wrigley mendirikan lembaga riset untuk mendanai studi ilmiah soal permen karet. Salah satu peneliti yang lama menggeluti topik ini adalah Andrew Smith. Ia meneliti permen karet sekitar 15 tahun.
Ia mengakui, riset yang didanai industri sering berujung pada hasil yang menguntungkan sponsor. Tapi temuannya tak selalu manis. Permen karet tidak banyak membantu daya ingat. Orang yang mengunyah tidak otomatis lebih jago mengingat cerita atau daftar kata. Efek yang paling konsisten justru pada kewaspadaan dan perhatian, naik sekitar 10 persen.
"Jika Anda melakukan tugas yang cukup membosankan untuk waktu yang lama, mengunyah tampaknya dapat membantu konsentrasi," ujar Crystal Haskell-Ramsay.
Tapi manfaat itu tergantung kondisi awal. Kalau seseorang sudah sangat fokus, efek tambahannya tipis.
Soal stres, buktinya lebih kuat. Dalam eksperimen presentasi dan tes matematika, permen karet menurunkan tingkat stres. Survei menunjukkan pengunyah permen karet cenderung lebih jarang mengeluh stres di tempat kerja.
Pada 2022, perempuan yang mengunyah permen karet sebelum operasi elektif tercatat lebih tenang. Meski begitu, efeknya tidak selalu muncul. Pada operasi caesar atau teka-teki yang bikin frustasi, permen karet tak banyak membantu.
Kesimpulan Smith sederhana. Permen karet bisa membuat seseorang sedikit lebih waspada. Efeknya singkat, tapi nyata.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News