Banyak Orang Mengunyah Permen Karet Saat Stres, Ini Penjelasan Medis di Baliknya

Banyak Orang Mengunyah Permen Karet Saat Stres, Ini Penjelasan Medis di Baliknya

Mengunyah Permen Karet--Foto: Today's Dental

JAKARTA, PostingNews.id - Saat banyak usaha ambruk satu per satu di era Depresi Besar, sebuah bisnis justru tetap berdiri santai sambil menghitung untung. Bukan pabrik baja atau perusahaan minyak. Yang bertahan justru permen karet.

Di tengah orang-orang yang kehilangan kerja, tabungan menipis, dan masa depan terasa buram, rahang manusia malah bekerja lebih keras. Fenomena itu tidak luput dari perhatian William Wrigley Jr. Pengusaha permen karet ini punya tafsirnya sendiri.

"Saya kira orang mengunyah lebih keras ketika mereka sedih," ujarnya. Dari tangannya lahir permen karet yang kelak mendunia, termasuk Juicy Fruit dan Spearmint.

Di awal abad ke-20, permen karet belum diposisikan sekadar sebagai penyegar napas. Ia dijual sebagai teman setia pikiran yang sedang kusut. Iklan-iklan lama berani menjanjikan ketenangan batin. Salah satunya pada 1918 yang menyebut permen karet bisa "menstabilkan saraf". Klaim itu terdengar sederhana, nyaris asal. Tapi publik percaya.

Satu abad berlalu, cerita lama itu diangkat lagi. Industri permen karet sedang megap-megap. Dalam lima tahun terakhir, kebiasaan mengunyah menurun tajam. Pandemi jadi pukulan telak. Penjualan di Amerika Serikat anjlok hampir sepertiga. Beberapa merek lawas tak sanggup bertahan, termasuk Fruit Stripe yang dulu lengket di ingatan masa kecil.

BACA JUGA:Trump Jalan Diam-Diam, Operasi Tangkap Maduro Tenryata Tak Libatkan Kongres AS

Menghadapi penurunan itu, para produsen tak lagi sekadar menjual rasa. Mereka menjual perasaan. Iklan-iklan baru muncul dengan pesan yang familiar. Kunyah saja masalahmu. Permen karet disebut bisa menenangkan pikiran yang ribut dan gelisah.

Bagi Wrigley, menjual mimpi memang bukan hal baru. Ia dikenal piawai membaca psikologi pasar, meski sering melangkahi sains. Namun tanpa ia sadari, ada satu hal yang ia sentuh dengan tepat. Banyak orang memang merasa lebih tenang saat mengunyah. Dan perasaan itu bertahan hingga sekarang.

Para ilmuwan kemudian turun tangan. Sejumlah penelitian mengamati apa yang sebenarnya terjadi saat rahang bergerak naik turun. Hasilnya, mengunyah permen karet terbukti membantu menjaga perhatian dan menekan stres, terutama pada orang yang sudah terbiasa mengunyah. Tapi satu pertanyaan tak pernah benar-benar terjawab. Mengapa manusia sejak awal begitu doyan mengunyah.

Keanehannya jelas. Permen karet tak memberi nutrisi. Rasanya cepat menguap. Tapi rahang tetap bekerja, kadang lama setelah rasa hilang. Seolah ada kenikmatan tersembunyi dari aktivitas itu sendiri. Murah, sederhana, tapi terasa menenangkan. Bagaimana mungkin gerakan rahang bisa mengubah suasana hati.

Jejaknya ternyata panjang. Manusia sudah mengunyah benda mirip permen karet sejak ribuan tahun lalu. Di Skandinavia, arkeolog menemukan gumpalan pitch kulit kayu birch berusia sekitar 8.000 tahun. 

Awalnya, bahan lengket itu dipakai untuk membuat lem peralatan berburu. Namun, bekas gigi di permukaannya berkata lain. Ada jejak anak-anak, sekitar lima tahun. Mereka tampaknya mengunyah bukan untuk bekerja, melainkan untuk senang-senang.

Kebiasaan serupa muncul di banyak tempat. Orang Yunani kuno, penduduk asli Amerika, hingga bangsa Maya mengunyah getah pohon seperti chicle dari sapodilla.

Tradisi itu menyeberang ke Amerika Serikat pada pertengahan abad ke-19, saat seorang penemu New York memperoleh chicle dari presiden Meksiko yang tengah diasingkan. Niat awalnya ingin membuat pengganti karet. tapi gagal. Dari kegagalan itulah permen karet modern lahir.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share

Berita Terkait