Piala Dunia 2026 di Ujung Tanduk, 16.800 Penggemar Batalkan Tiket dalam Satu Malam
Piala Dunia 2026 hadapi gelombang pembatalan.--Foto: FIFA Play.
JAKARTA, PostingNews.id - Piala Dunia 2026 belum bergulir, tapi riaknya sudah terasa. Turnamen sepak bola terbesar itu justru dibayangi gelombang pembatalan pembelian tiket oleh ribuan penggemar dari berbagai negara.
Dalam waktu singkat, belasan ribu calon penonton memilih mundur. Aksi ini bukan sekadar urusan tiket. Penarikan massal tersebut memperkuat seruan boikot terhadap Piala Dunia 2026.
Sasaran boikot diarahkan pada Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah. Tekanan ditujukan agar FIFA mencoret Amerika Serikat dari daftar peserta dan penyelenggara turnamen.
Lalu apa yang memicu gelombang pembatalan ini?
Kekhawatiran terhadap Situasi Politik Amerika Serikat
Sedikitnya 16.800 penggemar sepak bola dilaporkan membatalkan pembelian atau pemesanan tiket Piala Dunia 2026. Pembatalan itu terjadi serentak dalam satu malam.
BACA JUGA:Masih Berlaku! Segera Klaim Diskon Biaya Tambah Daya Listrik Januari 2026, Cek Syarat dan Rinciannya
Langkah tersebut dipicu oleh rasa khawatir terhadap keamanan dan kenyamanan di Amerika Serikat. Situasi politik negara itu menjadi sorotan utama.
Amerika Serikat memang menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 bersama Kanada dan Meksiko. Namun status itu tidak sepenuhnya menenangkan calon penonton.
Keraguan datang dari berbagai wilayah, mulai dari Eropa, Afrika, hingga Amerika sendiri. Para pendukung menilai kebijakan politik dan imigrasi Amerika Serikat berpotensi menyulitkan suporter asing.
Sorotan tertuju pada aktivitas agen imigrasi Amerika Serikat atau ICE yang dinilai semakin agresif. Praktik penahanan warga asing menjadi kekhawatiran tersendiri bagi pengunjung dari luar negeri.
Kekhawatiran itu diperkuat oleh sinyal dari Gedung Putih yang membuka kemungkinan razia imigrasi terhadap warga asing, termasuk mereka yang datang untuk menghadiri turnamen.
BACA JUGA:Waduh! Sampai Jadi Tren, Banyak Istri di Semarang Ajukan Cerai ke Pengadilan
Situasi makin memanas setelah muncul kebijakan pembatasan perjalanan, baik penuh maupun sebagian, terhadap warga dari Iran, Haiti, Senegal, dan Pantai Gading. Aturan tersebut dikhawatirkan menghambat kedatangan suporter ke stadion.
Di media sosial, gaungan penarikan tiket juga disuarakan sejumlah influencer. Aksi ini dikemas sebagai bentuk protes politik.
Protes tersebut dikaitkan dengan penangkapan Presiden Venezuela yang dilengserkan, Nicolas Maduro, oleh otoritas Amerika Serikat pada awal tahun ini.
Seruan Boikot Menguat secara Internasional
Isu pembatalan tiket tidak berhenti di kalangan suporter. Tekanan politik ikut menguat di level internasional.
Sebanyak 23 anggota parlemen Inggris lintas partai secara resmi menyerukan boikot Piala Dunia 2026. Mereka mendesak FIFA mencoret Amerika Serikat dari turnamen yang dijadwalkan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026.
BACA JUGA:Heboh di Medsos, Klaim Pramugari Gadungan Diterima Garuda Ternyata Palsu
Para legislator itu menilai Amerika Serikat seharusnya baru dilibatkan setelah menunjukkan kepatuhan terhadap hukum internasional dan penghormatan terhadap kedaulatan negara lain.
Mereka secara khusus menyoroti peristiwa yang disebut sebagai penculikan Presiden Venezuela. Kejadian itu dinilai sebagai intervensi langsung terhadap urusan dalam negeri negara berdaulat.
Selain Venezuela, para politisi tersebut juga menyinggung tekanan dan ancaman terhadap Denmark, Kolombia, dan Kuba. Mereka menilai langkah-langkah itu berpotensi merusak tatanan internasional berbasis aturan.
Anggota parlemen Inggris Brian Leishman meminta FIFA bersikap tegas dan konsisten.
“Ini adalah invasi terhadap negara berdaulat dan penculikan seorang presiden Venezuela,” kata Leishman, dikutip Jumat 16 Januari 2026.
Ia membandingkan sikap FIFA terhadap Amerika Serikat dengan perlakuan federasi sepak bola dunia itu kepada Rusia.
Rusia sebelumnya dilarang mengikuti berbagai kompetisi olahraga internasional, termasuk Piala Dunia 2026, setelah melakukan invasi ke Ukraina pada 2022.
“Kalau melihat bagaimana Rusia diperlakukan, yang memang benar, saya hanya ingin ada konsistensi,” ujar Leishman.
Tekanan politik dan keresahan publik kini menjadi ujian awal bagi penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Turnamen yang seharusnya menjadi perayaan sepak bola global justru dibuka dengan kontroversi yang belum menunjukkan tanda mereda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News