Jejak Rapat Rahasia Elite Venezuela dan Nama Delcy Rodriguez dalam Tumbangnya Nicolas Maduro
Mencuat kabar adanya rapat rahasia di internal Venezuela di balik tumbangnya Nicolas Madumo--Foto: ABC News
JAKARTA, PostingNews.id - Perubahan kekuasaan di Venezuela belakangan ini tidak lagi dipandang sebagai semata hasil tekanan Amerika Serikat. Di balik sorotan internasional, muncul dugaan bahwa kejatuhan Presiden Nicolas Maduro justru dipercepat oleh manuver senyap dari kalangan elite di Caracas sendiri.
Isu tersebut menguat setelah beredar kabar mengenai serangkaian pertemuan tertutup di luar negeri yang membahas masa depan Venezuela tanpa melibatkan Maduro. Dalam pembicaraan itu, Wakil Presiden Delcy Rodriguez disebut tampil sebagai figur kunci yang mengarahkan skenario transisi kekuasaan.
Informasi yang beredar menyebut sejumlah pejabat Venezuela menggelar pertemuan rahasia di Doha, Qatar. Agenda utama pertemuan itu adalah membicarakan arah pemerintahan setelah era Maduro berakhir. Presiden Venezuela tidak hadir dalam forum tersebut. Sebaliknya, Delcy Rodriguez bersama saudaranya, Jorge Rodriguez, justru disebut memimpin jalannya diskusi.
Seorang anggota senior keluarga kerajaan Uni Emirat Arab dikabarkan menjadi penghubung antara lingkaran kekuasaan Venezuela dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Peran perantara ini muncul di tengah meningkatnya tekanan militer Washington terhadap Caracas, sekaligus upaya mencari jalan keluar politik yang dianggap paling minim risiko.
Laporan Miami Herald menyebut Delcy Rodriguez secara langsung membuka jalur komunikasi dengan pihak Amerika Serikat. Dalam proses itu, ia memosisikan diri sebagai sosok yang dinilai lebih dapat diterima untuk memimpin Venezuela dibandingkan Maduro. Situasi ini memunculkan spekulasi bahwa transisi kekuasaan telah dirancang dari dalam lingkaran penguasa, bukan sekadar dipaksakan oleh tekanan dari luar.
BACA JUGA:Maduro Sempat Lari Menuju Ruang Aman saat Diburu Militer AS
Sejak Oktober, rangkaian informasi yang muncul menggambarkan skenario pergantian kepemimpinan yang tidak membongkar struktur kekuasaan lama. Konsep tersebut kerap disebut sebagai:
"Madurismo tanpa Maduro".
Artinya, rezim tetap berjalan dengan figur baru di puncak agar transisi berlangsung lebih tenang, tanpa gejolak besar, tanpa kerusuhan, dan tanpa perubahan drastis pada sistem negara.
Pernyataan terbuka Donald Trump pada Sabtu, 03 Januari 2026 memperkuat dugaan tersebut. Ia menyebut Amerika Serikat akan mengelola Venezuela melalui pemerintahan transisi yang dipimpin Delcy Rodriguez. Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menyinggung rencana masuknya perusahaan minyak Amerika ke negara itu.
"Dia pada dasarnya bersedia melakukan apa yang kami anggap perlu untuk membuat Venezuela kembali besar," ujar Trump kepada wartawan. Pernyataan itu merujuk pada Delcy Rodriguez yang sebelumnya pernah dikenai sanksi Amerika Serikat atas perannya dalam melemahkan demokrasi Venezuela.
Isu keterlibatan orang dalam semakin mencuat setelah pernyataan mantan Wakil Presiden Kolombia, Francisco Santos Calderon. Pada Minggu, 04 Januari 2026, Santos menyebut penyingkiran Maduro sebagai operasi internal yang melibatkan Delcy Rodriguez. Ia mengaku sangat yakin bahwa Maduro dibiarkan ditangkap oleh Amerika Serikat tanpa perlawanan berarti.
"Mereka tidak menyingkirkannya, mereka menyerahkannya," kata Santos.
BACA JUGA:Trump Butuh Berbulan-bulan Tumbangkan Maduro, Eksekusi Tengah Malam Cuma Berlangsung 2,5 Jam
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News