Maduro Sempat Lari Menuju Ruang Aman saat Diburu Militer AS
Nicola Maduro--Foto: Reuters
JAKARTA, PostingNews.id - Upaya penyelamatan diri Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, berlangsung singkat. Saat operasi militer Amerika Serikat memasuki fase akhir di jantung Caracas, Maduro dilaporkan masih sempat bergerak menuju ruang aman yang disiapkan di dalam kompleks militer Fuerte Tiuna.
Momen itu terjadi pada Sabtu dini hari, 03 Januari 2026, ketika pasukan AS telah menembus perimeter terakhir pangkalan militer utama Venezuela. Di tengah kekacauan akibat serangan udara dan pemadaman listrik, Maduro mencoba menjangkau ruang perlindungan internal yang selama ini menjadi bagian dari sistem keamanannya.
Sejak berbulan-bulan sebelumnya, intelijen Amerika Serikat telah mempelajari kebiasaan dan jalur pergerakan Maduro, termasuk prosedur darurat yang ia miliki jika terjadi ancaman langsung.
Salah satu fokus utama adalah keberadaan ruang aman dengan pintu baja yang dirancang untuk menahan serangan dan memberi waktu bagi evakuasi.
Ketika intelijen AS memastikan Maduro berada di kompleks Fuerte Tiuna pada Jumat malam, 02 Januari 2026, skenario terburuk bagi sang presiden mulai berjalan. Operasi penindasan pertahanan udara membuka jalan bagi helikopter yang membawa pasukan elit menuju lokasi target. Dalam waktu singkat, sistem komunikasi dan listrik di area pangkalan lumpuh.
Sekitar pukul 02.01 dini hari, pasukan AS mulai mendekati kompleks tempat Maduro berada. Di saat inilah upaya penyelamatan diri itu dimulai. Maduro disebut meninggalkan titik awalnya dan bergerak cepat menuju ruang aman melalui jalur internal yang telah disiapkan untuk situasi darurat.
Namun, kecepatan operasi menjadi faktor penentu. Pasukan AS berhasil menembus area inti lebih cepat dari perkiraan. Jalur menuju ruang aman yang seharusnya memberi perlindungan justru berubah menjadi lorong sempit tanpa waktu cukup untuk mengunci pertahanan terakhir.
Presiden AS, Donald Trump, menggambarkan detik-detik tersebut secara singkat.
"Dia sudah sampai di pintu pengaman, tetapi tidak sempat menutupnya. Dia diserbu begitu cepat," ungkap Trump.
Pintu baja yang dirancang sebagai batas terakhir kekuasaan Maduro tak pernah tertutup sempurna. Pasukan elit AS langsung melakukan penyerbuan.
Baku tembak tak terhindarkan. Sebagian besar tim pengamanan Maduro tewas dalam kontak senjata tersebut.
Pejabat Venezuela menyebut sedikitnya 40 orang meninggal dalam rangkaian operasi di berbagai wilayah. Dari pihak Amerika Serikat tidak ada korban jiwa, meski beberapa personel dilaporkan mengalami luka.
Setelah diamankan, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, segera dievakuasi menggunakan helikopter dengan pengawalan jet tempur menuju kapal serbu USS Iwo Jima.
Proses evakuasi menandai berakhirnya kekuasaan Maduro setelah upaya terakhirnya untuk bertahan gagal dalam hitungan menit.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News