Jusuf Kalla Ingatkan Risiko Besar di Balik Rencana Prabowo Jadi Mediator Konflik AS, Israel, dan Iran
Jusuf Kalla.-@jusufkalla-Instagram
JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Meningkatnya ketegangan akibat serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memunculkan wacana peran Indonesia sebagai penengah konflik. Presiden Prabowo Subianto disebut siap mengambil peran diplomatik untuk mendorong dialog di antara pihak-pihak yang bertikai.
Namun, sejumlah kalangan menilai upaya tersebut menghadapi tantangan besar di tengah kompleksitas geopolitik global.
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, mengingatkan bahwa konflik yang sedang berlangsung memiliki skala persoalan yang jauh lebih rumit dibandingkan berbagai konflik sebelumnya. Ia menilai niat menjadi mediator merupakan langkah baik, tetapi realitas politik internasional tidak mudah dihadapi.
"Ya niat, rencana, itu baik saja. Tapi ini situasi yang jauh lebih besar masalahnya. Ya Palestina dengan Israel saja tidak bisa, sulit didamaikan. Karena dunia ini sangat ditentukan oleh sifat dan Amerika," ujar JK kepada wartawan di Jakarta Selatan, Minggu 01 Maret 2026.
Menurut JK, dinamika kekuatan global membuat posisi negara-negara tidak selalu berada dalam relasi yang setara. Ia kemudian menyinggung hubungan kerja sama Indonesia dengan Amerika Serikat yang dinilai tidak sepenuhnya menguntungkan bagi Indonesia.
BACA JUGA:Kongres Amerika Muak Lihat Trump Bertindak Sepihak, Serangan ke Iran Dinilai Abaikan Legislator
"Dan sayangnya Indonesia telah mengadakan perjanjian tidak seimbang yang sangat merugikan Indonesia. Itu saja kita tidak setara Amerika. Bagaimana mendamaikan orang yang tidak setara dalam keadaan ini dalam hal perundingan seperti itu," ucapnya.
Selain aspek politik, JK juga menyoroti potensi dampak ekonomi yang dapat langsung dirasakan Indonesia apabila konflik berkepanjangan. Ia memperkirakan kenaikan harga energi menjadi konsekuensi awal yang sulit dihindari, terutama karena jalur distribusi kawasan Timur Tengah berpotensi terganggu.
"Iya, pertama tentu harga minyak naik. Pasti itu yang pertama. Logistik di antara Timur Tengah dan kita seluruh terputus," tuturnya.
Gangguan rantai pasok tersebut, kata JK, dapat berimbas pada aktivitas perdagangan internasional Indonesia. Ketidakpastian global akan memicu kekhawatiran pelaku ekonomi dan memperlambat arus ekspor, terutama menuju kawasan Eropa.
"Ekspor kita tentu ke Eropa akan masalah karena ini semua timbul ketakutan, semua orang bersiap seperti itu. Jadi masalahnya ya kita biasanya mengimpor minyak dari Timur Tengah karena kita kekurangan, sekarang pasti stop. Jadi ekonomi kita akan terkena di situ. Hati-hati dalam waktu yang apabila ini lama. Mudah-mudahan cepat selesai," tutupnya.
BACA JUGA:Jadwal Serangan Diubah Mendadak, Operasi AS dan Israel Berujung Tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri RI menyampaikan kesiapan pemerintah untuk mengambil peran diplomasi aktif guna meredakan ketegangan. Presiden Prabowo disebut membuka peluang memfasilitasi dialog demi menciptakan kembali situasi keamanan yang lebih kondusif.
"Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News