China Bongkar Sisi Rapuh Venezuela yang Berujung Penangkapan Maduro
China membongkar sisi rapuh Venezuela hingga berujung penangkapan Nicolas Maduro.--
JAKARTA, PostingNews.id - Langkah militer cepat yang ditempuh Amerika Serikat memantik perhatian serius Beijing. Operasi yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya di Venezuela itu kini dibaca sebagai gambaran nyata bagaimana Washington membongkar sistem pertahanan lawan dalam waktu singkat.
Di China, serangan tersebut tidak dilihat semata sebagai krisis politik Venezuela. Para analis militer menilainya sebagai demonstrasi taktik perang modern yang menggabungkan operasi siber, pengintaian elektronik, dan manuver pasukan khusus. Fokus utama kajian mereka tertuju pada satu hal yakni kegagalan sistem pertahanan udara Venezuela merespons serangan.
Sejumlah pengamat pertahanan di Beijing menyebut sistem yang selama ini diandalkan Caracas, sebagian besar berbasis teknologi Rusia, memiliki celah serius. Kelemahan yang menjadi sisi rapuh Venezuela itu dinilai dimanfaatkan secara presisi oleh pasukan elite Delta Force Angkatan Darat AS.
Fu Qianshao, analis militer China sekaligus mantan anggota Angkatan Udara, menyebut operasi tersebut relevan untuk dikaji lebih jauh. "Operasi ini bisa menjadi studi kasus tambahan bagi China," ujarnya, Selasa 6 Januari 2026.
Beijing sejatinya telah lama memantau pola operasi militer Amerika Serikat, terutama sejak Perang Teluk 1991. Namun, sebagian analis mengingatkan bahwa konteks Venezuela berbeda. Caracas dinilai bukan lawan seimbang bagi Washington, sehingga keberhasilan operasi itu belum tentu mencerminkan skenario serupa bila diterapkan terhadap negara dengan kesiapan militer lebih matang.
BACA JUGA:Prabowo Bilang PKB Harus Diawasi, Cak Imin Respons Santai
Operasi singkat yang menembus pertahanan
Dalam misi yang berlangsung sekitar dua jam 20 menit, pasukan khusus AS menyusup ke jantung Caracas dan mengevakuasi Maduro serta istrinya, Cilia Flores, dari kediaman mereka. Keduanya kemudian diterbangkan ke kapal perang USS Iwo Jima, sebelum dibawa ke New York.
Keberhasilan operasi itu mengejutkan banyak pihak, mengingat Venezuela memiliki sistem pertahanan udara berlapis. Caracas mengoperasikan rudal S-300VM dan Buk-M2 buatan Rusia, serta radar JY-27A produksi China yang diklaim mampu mendeteksi target siluman dan tahan gangguan elektronik.
Namun sistem tersebut gagal berfungsi optimal. Menurut Fu, pasukan AS diduga melumpuhkan pertahanan Venezuela melalui serangan siber dan elektronik yang menyasar suplai listrik serta jaringan komunikasi militer. “Militer AS diyakini mengintervensi suplai listrik dan komunikasi, yang mungkin membuat sistem radar dan komando tidak berfungsi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa sistem S-300 secara teori seharusnya berada dalam kondisi siaga tinggi. Namun ada kemungkinan sistem itu tidak aktif. Bahkan jika menyala, kemampuannya untuk mendeteksi helikopter yang terbang sangat rendah tetap terbatas. Helikopter AS diketahui terbang sekitar 30 meter di atas permukaan laut, membuatnya sulit terpantau radar konvensional.
Sindiran Washington dan evaluasi Beijing
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, sempat melontarkan sindiran terkait performa sistem pertahanan Rusia. “Sepertinya sistem pertahanan udara Rusia itu tidak berfungsi dengan baik, bukan?” ujarnya dalam pidato militer pada Senin 5 Januari 2026.
BACA JUGA:Terungkap Alasan Misi Senyap Trump Tangkap Presiden Venezuela: Narkoba hingga Manipulasi Pemilu
Data yang diklaim Pemerintah AS menyebut lebih dari 150 pesawat tempur, pembom, dan pesawat pengintai dikerahkan dalam operasi tersebut. Armada udara ini menciptakan jalur aman bagi helikopter sekaligus menghantam radar dan baterai rudal Venezuela secara sistematis.
Venezuela juga mengandalkan radar JY-27A buatan China yang dikenal portabel dan relatif tahan gangguan. Namun Fu menilai radar tersebut tidak terhubung langsung dengan sistem penembakan rudal. Selain itu, medan perkotaan Caracas yang kompleks menyulitkan deteksi target secara presisi.
“Pengawasan udara bukan tugas satu radar saja,” kata Fu. “Sistem pengawasan Venezuela penuh kekurangan. Responsnya terhadap keadaan darurat lambat dan tidak terkoordinasi, ini menunjukkan kesiapan militer mereka sangat rendah.”
Bagi Beijing, serangan kilat AS di Venezuela menjadi pengingat bahwa peperangan modern tidak lagi bergantung pada kekuatan senjata semata. Integrasi teknologi, kecepatan pengambilan keputusan, dan koordinasi lintas domain menjadi faktor penentu. Meski Venezuela bukan tolok ukur ancaman langsung bagi China, pola operasi tersebut tetap dianggap relevan dalam membaca arah strategi militer Amerika Serikat ke depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News