Menghitung Harga Greenland yang Harus Dibayar Donald Trump

Menghitung Harga Greenland yang Harus Dibayar Donald Trump

Greenland.--Foto: Reuters

JAKARTA, PostingNews.id - Ambisi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menguasai Greenland kian menggebu-gebu. Pulau besar di kawasan Amerika Utara itu berada di bawah kedaulatan Denmark, negara yang bersama Uni Eropa secara konsisten menolak gagasan tersebut.

Wacana penguasaan Greenland terbaru disampaikan melalui penjelasan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, kepada para anggota parlemen pada 05 Januari 2026. Dalam sebuah pengarahan tertutup bersama komisi angkatan bersenjata dan kebijakan luar negeri, Rubio menyatakan bahwa Trump lebih condong pada opsi pembelian dibandingkan langkah invasi militer.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Gedung Putih masih menempatkan isu Greenland dalam jalur nonmiliter, meskipun sikap Denmark tidak berubah. Pemerintah Denmark berulang kali menegaskan bahwa Greenland bukan objek yang dapat diperjualbelikan, sementara Uni Eropa mendukung penuh posisi tersebut.

Di tengah perdebatan politik itu, muncul pertanyaan lanjutan mengenai harga Greenland jika transaksi semacam itu benar-benar dimungkinkan.

Kepala ekonom bank ABN AMRO Belanda, Nick Kounis, mengatakan bahwa tidak ada metode baku untuk menentukan harga sebuah negara atau wilayah berdaulat.

“Tidak ada pasar untuk membeli dan menjual negara,” ujarnya.

BACA JUGA:Trump Tebar Ancaman ke Banyak Negara, Ingin Naikkan Anggaran Belanja Militer AS hingga 50 Persen

Menurut Kounis, pendekatan historis pun sulit dijadikan acuan. Beberapa peristiwa di masa lalu memang mencatat transaksi wilayah antarnegara, namun konteks ekonomi dan politiknya sangat berbeda dengan kondisi saat ini.

Amerika Serikat pernah mengajukan tawaran pembelian Greenland kepada Denmark pada 1946 dengan nilai 100 juta dollar AS. Tawaran tersebut ditolak. Jika dikonversi ke nilai saat ini, jumlah itu setara sekitar 1,6 miliar dollar AS atau sekitar Rp27 triliun.

Namun, Kounis menilai angka tersebut tidak memiliki relevansi sebagai pembanding.

Selama hampir delapan dekade terakhir, struktur dan skala ekonomi Amerika Serikat maupun Denmark telah berubah secara signifikan. Nilai tersebut juga tidak mencerminkan posisi strategis Greenland dan potensi sumber daya alamnya dalam perekonomian global era 2020-an.

Greenland memiliki cadangan mineral yang besar serta letak geografis yang semakin penting di kawasan Arktik. Perubahan iklim yang membuka jalur pelayaran baru turut meningkatkan daya tarik pulau tersebut dalam peta geopolitik dunia.

Sejumlah transaksi wilayah lain sering dikutip dalam diskusi ini, seperti pembelian Louisiana oleh Amerika Serikat dari Perancis pada 1803 seharga 15 juta dollar AS dan akuisisi Alaska dari Rusia pada 1867 senilai 7,2 juta dollar AS. Meski demikian, Kounis menilai peristiwa tersebut tidak dapat dijadikan rujukan langsung.

BACA JUGA:Sederet Aset Kekayaan Yaqut Cholil, Kini Resmi Jadi Tersangka Korupsi Kuota Haji

Dalam dua kasus itu, negara penjual secara sadar memilih untuk melepaskan wilayahnya. Situasi tersebut berbeda dengan posisi Denmark saat ini yang secara tegas menolak menjual Greenland.

 

Perbedaan mendasar inilah yang membuat gagasan pembelian Greenland sulit diterjemahkan ke dalam hitungan ekonomi semata. Isu ini lebih mencerminkan tarik-menarik kepentingan strategis dan politik global ketimbang sekadar persoalan harga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share

Berita Terkait