Trump Tebar Ancaman ke Banyak Negara, Ingin Naikkan Anggaran Belanja Militer AS hingga 50 Persen
Donald Trump--Foto: Reuters
JAKARTA, PostingNews.id - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan keinginannya untuk menaikkan anggaran pertahanan negaranya secara signifikan pada tahun depan. Dalam pernyataan yang disampaikan Rabu, 07 Januari 2026, Trump mengusulkan peningkatan belanja militer hingga 50 persen dibandingkan rencana sebelumnya.
Jika rencana itu terealisasi, anggaran pertahanan Amerika Serikat pada tahun depan diproyeksikan mencapai 1,5 triliun dollar AS atau setara sekitar 25.000 triliun rupiah. Angka tersebut jauh melampaui alokasi yang sebelumnya direncanakan sebesar 1 triliun dollar AS.
“Saya telah memutuskan, demi kebaikan negara kita, terutama di masa-masa yang sangat sulit dan berbahaya ini, anggaran militer kita untuk tahun 2027 seharusnya bukan 1 triliun dollar AS, melainkan 1,5 triliun dollar AS,” kata Trump melalui akun Truth Social miliknya.
“Ini akan memungkinkan kita untuk membangun ‘militer impian’ yang telah lama menjadi hak kita. Yang lebih penting, akan menjaga kita tetap aman dan terjaga, terlepas dari musuh mana pun,” sambungnya.
Pernyataan tersebut menegaskan kembali pendekatan keras Trump dalam urusan pertahanan sejak ia kembali menduduki Gedung Putih. Dalam periode awal pemerintahannya, Trump tercatat beberapa kali mengerahkan kekuatan militer, termasuk operasi khusus yang diklaim bertujuan menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
BACA JUGA:Prabowo Khawatir Ada Nama Temannya dalam Daftar Perusahaan Pelanggar: 'Nanti Saya Terpengaruh'
Usai operasi di Venezuela, Trump melontarkan ancaman kepada banyak negara lain, di antaranya Kolombia, Kuba, dan Iran. Ancaman tersebut memperkuat kesan bahwa kebijakan luar negeri Washington di bawah kepemimpinannya kembali bertumpu pada kekuatan militer.
Trump menyebut rencana kenaikan anggaran tersebut dimungkinkan oleh lonjakan pendapatan negara, terutama dari kebijakan tarif besar-besaran yang telah ia terapkan terhadap berbagai produk impor. Menurutnya, pemasukan itu memberi ruang fiskal bagi pemerintah untuk memperkuat sektor pertahanan tanpa mengorbankan kepentingan domestik lainnya.
Saat ini Amerika Serikat masih menjadi negara dengan pengeluaran militer terbesar di dunia. Penambahan anggaran hingga 1,5 triliun dollar AS akan semakin menjauhkan posisi Washington dari para pesaing utamanya seperti China dan Rusia.
Namun, lonjakan belanja pertahanan tersebut juga dinilai berpotensi memicu perlombaan senjata baru di tingkat global, terutama dengan negara-negara besar yang selama ini berupaya menyeimbangkan kekuatan militer Amerika Serikat.
Pengumuman Trump itu juga tidak terlepas dari dinamika dengan sekutu-sekutu Amerika Serikat. Tahun lalu, negara-negara anggota NATO berkomitmen untuk menaikkan belanja pertahanan hingga lima persen dari produk domestik bruto masing-masing pada 2035. Langkah tersebut diambil setelah tekanan berulang dari Trump agar sekutu berbagi beban keamanan secara lebih adil.
Di sisi lain, Trump turut melontarkan kritik keras terhadap industri pertahanan dalam negeri. Ia menyoroti besarnya keuntungan yang diraup para kontraktor senjata, yang menurutnya tidak sebanding dengan investasi mereka dalam kapasitas produksi.
“Kontraktor pertahanan membayarkan dividen besar-besaran kepada pemegang saham mereka dan melakukan pembelian kembali saham besar-besaran, dengan mengorbankan dan merugikan investasi dalam pabrik dan peralatan,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News