Malam Berdarah di Caracas, Puluhan Jiwa Tewas dalam Operasi Tangkap Presiden Venezuela
Nicolas Maduro.--Foto: Reuters
JAKARTA, PostingNews.id - Ketegangan menyelimuti Caracas, ibu kota Venezuela, setelah terungkap rincian operasi militer Amerika Serikat yang selama ini disimpan rapat.
Laporan itu memaparkan gambaran keras tentang sebuah misi rahasia yang berujung pertumpahan darah dan penangkapan Nicolas Maduro.
Sedikitnya 75 orang dilaporkan tewas dalam operasi yang berlangsung pada 03 Januari 2026 lalu. Target utama serangan tersebut adalah Presiden Nicolas Maduro, yang disebut menjadi sasaran penangkapan langsung oleh pasukan khusus Amerika Serikat.
Informasi mengenai operasi ini mencuat setelah surat kabar The Washington mengungkap bahwa sejumlah pejabat mengetahui secara langsung jalannya misi rahasia tersebut. Pengungkapan ini sekaligus membuka babak baru ketegangan antara Washington dan Caracas, dengan skala yang dinilai belum pernah terjadi sebelumnya.
Baku tembak paling sengit dilaporkan terjadi di dalam dan sekitar kompleks kepresidenan di Caracas. Area yang selama ini dikenal dengan pengamanan ketat berubah menjadi medan pertempuran ketika pasukan khusus Amerika Serikat melancarkan serangan.
Jumlah korban jiwa dalam insiden itu bervariasi berdasarkan sumber yang berbeda, namun seluruhnya menggambarkan skala kekerasan yang besar. Seorang sumber menyebut sedikitnya 67 orang tewas, sementara sumber lain memperkirakan korban mencapai antara 75 hingga 80 orang.
Korban tewas mencakup personel militer Venezuela dan Kuba yang bertugas mengamankan presiden, serta warga sipil yang berada di sekitar lokasi dan terjebak di tengah baku tembak. Situasi kacau membuat evakuasi sulit dilakukan pada jam-jam awal operasi.
Puncak operasi terjadi pada 03 Januari ketika pasukan khusus Amerika Serikat berhasil menembus pertahanan kompleks kepresidenan. Dalam serangan tersebut, Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dilaporkan ditahan dan segera diterbangkan keluar dari Venezuela menuju New York.
Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, kemudian secara terbuka menyampaikan alasan di balik langkah militer negaranya. Trump menyatakan bahwa Maduro dan Flores akan dibawa ke pengadilan di Amerika Serikat.
Menurut Trump, keduanya diduga terlibat dalam jaringan kejahatan lintas negara. Ia secara spesifik menuding Maduro dan Flores terlibat dalam narkoterorisme dan menyebut aktivitas tersebut sebagai ancaman serius, termasuk ancaman langsung bagi keamanan Amerika Serikat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News