Trump Jalan Diam-Diam, Operasi Tangkap Maduro Tenryata Tak Libatkan Kongres AS

Trump Jalan Diam-Diam, Operasi Tangkap Maduro Tenryata Tak Libatkan Kongres AS

Donald Trump protes ke China karena tak menyebut peran AS di PD II saat parade militer. Ia sebut AS pernah bantu lawan Jepang.-Foto: IG @potus-

JAKARTA, PostingNews.id - Operasi militer Amerika Serikat yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, pada 03 Januari 2026 meninggalkan gema panjang di Washington. Keberhasilan misi tersebut justru membuka perdebatan serius soal cara keputusan besar diambil tanpa sepengetahuan parlemen.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela memang telah berlangsung berbulan-bulan. Namun, yang kini menjadi sorotan bukan hanya penangkapan seorang kepala negara, melainkan fakta bahwa Kongres AS tidak dilibatkan sejak tahap awal perencanaan.

Rencana itu disusun dalam lingkaran sangat terbatas. Pejabat militer dan intelijen menyimpan rapat detail operasi, sementara anggota parlemen sama sekali tidak diberi informasi. Langkah ini sejak awal dianggap krusial untuk menjaga kerahasiaan dan memastikan unsur kejutan tetap terjaga.

Laporan BBC pada Minggu 4 Januari 2026 mengungkap, operasi tersebut merupakan hasil perencanaan panjang selama berbulan-bulan. Aparat intelijen AS memantau setiap gerak Maduro melalui jaringan mata-mata. Jadwal tidur, menu makanan, kebiasaan berpakaian, hingga detail kecil di sekitar rumah persembunyiannya di Caracas dikumpulkan secara sistematis.

BACA JUGA:Viral! Sosok Pria 31 Tahun Ditangkap, Misteri Kematian Anak Politikus PKS Mulai Terkuak

Namun, informasi yang paling dijaga bukan hanya soal target, melainkan siapa saja yang berhak mengetahuinya. Kongres dikeluarkan sepenuhnya dari lingkaran perencanaan.

Awal Desember menjadi titik penting ketika misi bernama Operation Absolute Resolve dinyatakan siap. Pasukan elite AS berlatih menggunakan replika rumah persembunyian Maduro. Jalur masuk, pintu baja, hingga sudut ruangan ditiru untuk memastikan tidak ada kesalahan saat eksekusi. Sementara itu, keputusan politik tetap berjalan satu arah dari Gedung Putih.

Para pejabat militer senior hanya menunggu waktu yang dianggap paling tepat. Unsur kejutan dinilai sebagai kunci utama. Persetujuan awal dari Presiden Donald Trump sebenarnya telah diberikan empat hari sebelumnya. Cuaca yang tidak mendukung membuat rencana itu ditunda.

"Selama beberapa minggu menjelang Natal dan Tahun Baru, para pria dan wanita di militer AS duduk bersiap, dengan sabar menunggu pemicu yang tepat terpenuhi dan presiden memerintahkan kami untuk bertindak," ujar Kepala Staf Gabungan Militer AS, Dan Caine, dalam konferensi pers.

BACA JUGA:Rekam Jejak Karier John Herdman, Pelatih Unik yang Kini Pimpin Timnas Indonesia!

Penundaan tersebut justru mempersempit jumlah pihak yang mengetahui rencana operasi. Menjelang hari pelaksanaan, hanya segelintir pejabat di Gedung Putih dan jajaran militer yang memegang kendali penuh. Capitol Hill tetap berada dalam kegelapan informasi.

Perintah final akhirnya keluar pada Jumat malam 2 Januari 2026 pukul 22.46 waktu setempat. Trump memberi lampu hijau beberapa jam sebelum tengah malam di Caracas. Keputusan itu memberi militer ruang untuk bergerak pada jam-jam minim aktivitas publik.

"Kami akan melakukan ini empat hari yang lalu, tiga hari yang lalu, dua hari yang lalu, dan kemudian tiba-tiba kesempatan itu terbuka. Kami berkata, lanjutkan," kata Trump beberapa jam setelah operasi berlangsung.

Menurut Jenderal Caine, pesan dari Trump disampaikan secara singkat. "Dia mengatakan kepada kami, dan kami menghargainya, semoga berhasil dan Tuhan memberkati."

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share

Berita Terkait