Di Ambang Perang atau Damai, Negosiasi Amerika Serikat dan Iran di Jenewa Jadi Penentu

Di Ambang Perang atau Damai, Negosiasi Amerika Serikat dan Iran di Jenewa Jadi Penentu

Kian panas, Iran dan Amerika saling mengancam.-Foto: Reuters-

Para perunding juga harus memahami secara mendalam target politik yang ditetapkan pemimpin negaranya. Ia menilai karakter kedua pemimpin memiliki ciri khas yang turut memengaruhi jalannya diplomasi.

"Keduanya memiliki ego, ambisi dan juga personal interest. Trump khawatir kalau sampai gagal, reputasi serta legacy indah yang ingin diraih bisa hancur berantakan," ucap SBY.

"Ali Khamenei juga khawatir kalau sengketa sengit dengan Amerika ini, jika nasibnya naas, bisa berakhir dengan pergantian rezim dan he must go. Berarti, ini merupakan survival interest buat pemimpin Iran itu," lanjutnya.

Ia mencatat sejumlah pengamat menilai kegagalan perundingan berpotensi membuka jalan menuju konflik militer. Situasi dinilai sudah berada pada fase genting.

BACA JUGA:Hakim Rampas Aset Terminal BBM Merak Usai Anak Riza Chalid Divonis 15 Tahun Penjara

"Ibaratnya kondisi sudah matang. Tinggal menunggu komando Trump dan Khamenei," lanjutnya.

Perang bukan keputusan otomatis

Meski risiko konflik meningkat, SBY menilai perang tidak serta-merta menjadi pilihan yang pasti diambil. Seorang pemimpin negara, menurutnya, tidak akan gegabah mengerahkan kekuatan militer karena konsekuensinya sangat besar.

"Ada catatan penting bagi seorang “commander-in-chief” untuk mengambil jalan perang guna memenuhi kepentingan nasionalnya," katanya.

Ia kemudian menguraikan dua pertimbangan utama. Pertama, apakah perang benar-benar menjadi kebutuhan mutlak atau masih tersedia jalan lain melalui diplomasi. Konsep ini dikenal sebagai perbedaan antara war of necessity dan war of choice.

"Inilah yang sering disebut war of necessity dan war of choice. Pada akhirnya, kedua belah pihak akan menentukan berperang atau menempuh jalan lain," katanya.

BACA JUGA:Nasib 7,3 Juta Peserta BPJS PBI, Mensos Buka Suara Soal Penonaktifan

Pertimbangan kedua berkaitan dengan kalkulasi rasional mengenai peluang kemenangan. Negara, menurutnya, cenderung memilih perang jika perhitungan strategis menunjukkan peluang menang yang meyakinkan.

Namun keputusan tersebut tidak hanya menyangkut strategi militer. Nasib rakyat menjadi taruhan utama. Ia mengingatkan agar pertimbangan profesional para jenderal dan petinggi militer tidak dikalahkan oleh ego politik pemimpin.

Belajar dari pengalaman perang Amerika Serikat

SBY juga menyinggung pengalaman panjang Amerika Serikat dalam berbagai konflik bersenjata. Ia mengingatkan bahwa sejarah menunjukkan biaya perang sering kali jauh lebih mahal dari perkiraan awal.

"Ingat kembali pengalaman pahit ketika melakukan peperangan di Vietnam, Irak dan Afghanistan. Ingat, Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan," ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share

Berita Terkait