Diamnya Prabowo soal Iran, Pengamat TimTeng Sebut Sikap Pemerintah Blunder
Pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf menyebut sikap pemerintah yang belum mengecam serangan AS dan Israel ke Iran sebagai blunder kebijakan luar negeri. -Foto: Antara-
JAKARTA, PostingNews.id – Serangan militer Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memicu gelombang reaksi di berbagai negara. Namun hingga kini pemerintah Indonesia belum juga mengeluarkan kecaman resmi. Sikap itu justru memancing kritik dari sejumlah pengamat, salah satunya pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf.
Dalam pandangannya, pemerintah seharusnya tidak berlama-lama mengambil sikap. Bagi Faisal, diamnya Jakarta di tengah peristiwa sebesar itu justru menimbulkan tanda tanya tentang arah kebijakan luar negeri Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, serangan yang menargetkan pemimpin tertinggi Iran bukan peristiwa biasa. Selain menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, serangan tersebut juga dilaporkan menelan korban dari kalangan elite militer Iran. Situasi itu, kata Faisal, seharusnya cukup bagi Indonesia untuk menyampaikan kecaman secara terbuka.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia selama ini dikenal konsisten menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina dan menolak berbagai bentuk agresi militer. Karena itu, sikap yang tegas dianggap penting agar posisi politik luar negeri Indonesia tetap konsisten.
BACA JUGA:Niat Jadi Mediator Iran-Israel, Tapi Indonesia Telanjur Duduk di Kubu BoP
Dalam sebuah diskusi yang digelar bersama mantan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham Samad di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Faisal menyampaikan pandangannya secara lugas.
“Seharusnya yang dilakukan Presiden Prabowo itu pertama, mengutuk serangan Amerika dan Israel yang dilakukan terhadap Iran,” ujar Faisal dalam diskusi tersebut yang dikutip Sabtu 7 Maret 2026.
Faisal menilai sikap pemerintah yang belum mengeluarkan kecaman resmi bukan sekadar soal diplomasi yang berhati-hati. Menurut dia, hal itu menunjukkan adanya masalah dalam arah kebijakan luar negeri Indonesia sejak awal masa pemerintahan Prabowo.
“Kalau saya lihat dari awal, memang kebijakan Presiden Prabowo ini blunder, keliru dalam isu Palestina,” tegasnya.
Ia mencontohkan pidato Presiden Prabowo pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada September tahun lalu. Dalam pidato tersebut, Prabowo menyinggung pentingnya menjamin keamanan Israel. Pernyataan itu sempat memicu perdebatan di dalam negeri karena disampaikan ketika konflik di Gaza masih berlangsung.
BACA JUGA:Muhammadiyah Sebut Prabowo Tak Gegabah Gabung Dewan Perdamaian
Menurut Faisal, pernyataan tersebut menimbulkan kesan bahwa posisi Indonesia terhadap konflik Timur Tengah mulai bergeser dari sikap yang selama ini dikenal tegas membela Palestina.
Soroti Keikutsertaan Indonesia di Dewan Perdamaian
Selain pidato di forum internasional, Faisal juga menyinggung keputusan Indonesia bergabung dalam Dewan Perdamaian yang digagas mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Forum tersebut melibatkan sejumlah negara, termasuk Israel.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News