Diamnya Prabowo soal Iran, Pengamat TimTeng Sebut Sikap Pemerintah Blunder
Pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf menyebut sikap pemerintah yang belum mengecam serangan AS dan Israel ke Iran sebagai blunder kebijakan luar negeri. -Foto: Antara-
Bagi Faisal, keputusan itu memunculkan pertanyaan besar mengenai konsistensi sikap Indonesia.
“Jadi aneh. Kita satu lembaga dengan negara yang ditetapkan oleh Mahkamah Internasional melakukan genosida terhadap bangsa Palestina,” kritiknya.
Ia juga menyinggung posisi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang disebut telah dinyatakan sebagai penjahat perang oleh Mahkamah Pidana Internasional. “Dan anggotanya itu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang sudah dinyatakan sebagai penjahat perang oleh ICC, harus ditangkap,” katanya.
BACA JUGA:Iran Setop Rudal ke Arab, Syaratnya Para Sultan Jangan Mau Jadi Mainan AS
Di sisi lain, Faisal juga menilai langkah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran dengan menargetkan pemimpin tertingginya sebagai kesalahan strategi. Menurutnya, serangan seperti itu justru berpotensi memperkuat solidaritas rakyat Iran terhadap pemerintahnya.
Dalam sejarah politik Iran, kata dia, tekanan dari pihak luar sering kali memicu persatuan internal. “Ketika berhadapan dengan musuh asing, mereka sangat solid. Itu sudah dibuktikan,” ujarnya.
Menurut Faisal, kondisi tersebut justru dapat memperpanjang konflik di kawasan dan memperkuat dukungan domestik terhadap pemerintahan Iran, alih-alih melemahkannya.
Di tengah situasi yang semakin tegang di Timur Tengah, sikap negara-negara besar maupun negara berkembang seperti Indonesia kini ikut menjadi sorotan. Bagi sebagian pengamat, setiap pernyataan atau bahkan diamnya sebuah negara bisa dibaca sebagai sinyal politik dalam percaturan geopolitik yang sedang memanas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News