Kemlu Pilih Netral di Tengah Konflik AS–Israel vs Iran, RI Mau Jadi Penonton atau Penengah?
Kemlu menyatakan Indonesia netral dalam konflik AS–Israel dan Iran serta ingin menjadi penengah melalui diplomasi sambil memprioritaskan perlindungan WNI.-Foto: Antara-
JAKARTA, PostingNews.id — Ketika ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran, pemerintah Indonesia memilih menempatkan diri di posisi netral. Pemerintah menyatakan tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif.
Sikap tersebut disampaikan Kementerian Luar Negeri melalui Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Santo Darmosumarto. Menurut dia, Indonesia tidak ingin berdiri di salah satu kubu dalam konflik yang semakin memanas di kawasan Teluk.
Santo menjelaskan bahwa posisi tersebut diambil bukan hanya sebagai bentuk pelaksanaan amanat konstitusi, tetapi juga agar Indonesia tetap memiliki ruang untuk berperan dalam menjaga ketertiban dunia.
“Sebagai bentuk implementasi dari politik luar negeri kita yang bebas aktif dan tentunya amanat konstitusi untuk turut melaksanakan ketertiban dunia, Indonesia berharap untuk berperan sebagai honest broker, bukan sebagai aktor yang mengambil posisi terhadap salah satu pihak,” kata Santo dalam konferensi pers pada Sabtu, 7 Maret 2026.
Santo kemudian memaparkan sejumlah langkah yang diklaim sudah ditempuh pemerintah setelah konflik pecah antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
BACA JUGA:Iran-Israel Terus Memanas, Luhut Ingatkan Indonesia Jangan Ikut-Ikutan
Langkah pertama adalah menyampaikan seruan agar seluruh pihak menghentikan kekerasan. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri merilis pernyataan resmi yang meminta agar eskalasi segera dihentikan dan semua pihak menempuh jalan deeskalasi.
Seruan tersebut, kata Santo, sudah disampaikan sejak konflik pecah pada Sabtu, 28 Februari 2026. Indonesia menilai langkah menahan diri menjadi penting agar situasi tidak semakin melebar ke kawasan lain.
Langkah kedua dilakukan melalui jalur diplomasi. Pemerintah mengintensifkan komunikasi dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah untuk mendorong dialog.
Dalam sepekan terakhir, Menteri Luar Negeri Sugiono disebut telah berkomunikasi melalui telepon dengan sejumlah pejabat tinggi di kawasan. Pembicaraan dilakukan dengan Menteri Luar Negeri Iran, Uni Emirat Arab, serta Arab Saudi.
Selain itu, Presiden Prabowo Subianto juga melakukan komunikasi dengan sejumlah pemimpin kawasan. Di antaranya pimpinan Uni Emirat Arab, Emir Qatar, serta Raja Yordania.
BACA JUGA:FPI Ingatkan Pemerintah, TNI di Gaza Jangan Sampai Berkonfrontasi dengan Hamas
Upaya komunikasi tersebut disebut sebagai bagian dari dorongan Indonesia agar penyelesaian konflik ditempuh melalui jalur diplomasi.
“Tentunya yang kami ingin lakukan adalah mendorong penyelesaian damai berdasarkan hukum internasional,” ujar Santo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News