Saat Dunia Terbelah, Prabowo Tegaskan Indonesia Tak Ikut Blok Militer
Prabowo Subianto menegaskan Indonesia tidak akan masuk aliansi militer di tengah konflik global dan tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif.--Google
JAKARTA, PostingNews.id — Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia tidak akan bergabung dengan aliansi militer negara mana pun. Sikap tersebut ditegaskan sebagai bagian dari komitmen Indonesia menjalankan politik luar negeri bebas aktif sekaligus menjaga hubungan baik dengan semua negara.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo dalam wawancara khusus dengan media internasional Bloomberg di kediaman pribadinya di Hambalang Jawa Barat. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa Indonesia tetap berdiri pada prinsip tidak memihak blok kekuatan mana pun.
“Kami tidak bisa menjadi bagian dari aliansi militer mana pun,” ujar Prabowo dalam wawancara tersebut sebagaimana dikutip dari keterangan tertulis Badan Komunikasi Pemerintah.
Menurut Prabowo, Indonesia memilih memperkuat kemandirian pertahanan nasional tanpa bergantung pada kekuatan negara lain. Ia menilai setiap negara harus memiliki kemampuan mempertahankan diri jika menghadapi ancaman.
“Ketika sesuatu terjadi, kita tidak bisa bergantung pada siapa pun,” kata Prabowo.
BACA JUGA:Survei Princeton dan SMRC: Puasa Medsos Meningkatkan Kesehatan Mental
Ia juga menegaskan postur militer Indonesia bersifat defensif. Artinya kekuatan militer dibangun untuk menjaga kedaulatan dan keamanan nasional, bukan untuk kepentingan ekspansi atau aliansi militer internasional.
Sikap tersebut sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang selama ini dianut Indonesia. Prinsip ini menegaskan Indonesia tidak berpihak pada blok kekuatan mana pun, namun tetap aktif berperan dalam menjaga perdamaian dunia.
Di tengah situasi geopolitik global yang memanas, posisi tersebut dinilai penting untuk menjaga keseimbangan hubungan internasional Indonesia.
Ketegangan global sendiri meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer ke Iran pada akhir Februari 2026. Serangan udara gabungan tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur di wilayah Iran dan menimbulkan korban jiwa di kalangan warga sipil.
Serangan itu juga dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran termasuk Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran Ayatollah Ali Khamenei.
BACA JUGA:Aktivis Kontras Disiram Air Keras, TAUD Desak Pengusutan Aktor Intelektual
Iran kemudian membalas serangan tersebut dengan meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di kawasan Timur Tengah.
Di tengah memanasnya konflik tersebut, Presiden Prabowo menyatakan Indonesia siap berperan sebagai juru damai. Ia menilai penyelesaian konflik hanya dapat dicapai melalui dialog antara pihak yang bertikai.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News