Rahasia Umur Panjang Terbongkar, Sains Bilang 50 Persen Ditentukan Gen, Sisanya Gaya Hidup
Studi terbaru ungkap 50 persen umur manusia dipengaruhi genetik, sisanya ditentukan gaya hidup dan lingkungan.-Foto: Dok. Xinhua-
JAKARTA, PostingNews.id — Umur panjang selama ini sering dijual sebagai hasil pola hidup sehat. Makan dijaga, olahraga rutin, tidur cukup. Tapi riset terbaru justru membongkar narasi lama itu. Ternyata, separuh peluang hidup panjang sudah “ditentukan dari lahir”.
Studi yang dipublikasikan di jurnal Science pada 29 Januari 2026 menemukan bahwa sekitar 50 persen umur manusia dipengaruhi faktor genetika. Angka ini melonjak jauh dibanding perkiraan lama yang hanya berkisar 6 persen hingga 25 persen.
Artinya sederhana tapi bikin mikir. Sehat penting, tapi gen tetap pegang kendali besar.
Penelitian ini dipimpin oleh Joris Deelen yang menggunakan pendekatan berbeda dari riset sebelumnya. Timnya menyusun model matematika untuk “membersihkan” pengaruh faktor luar seperti kecelakaan dan infeksi.
BACA JUGA:Nokia NX 5G: Bawakan Desain QWERTY Klasik Berspesifikasi Monster, Cek di Sini Infonya!
Dengan cara itu, mereka mencoba melihat umur panjang dalam kondisi paling “murni” dari sisi genetik.
“Jika suatu sifat sangat ditentukan secara genetik, maka korelasi pada kembar monozigot akan jauh lebih tinggi daripada korelasi pada kembar dizigot,” kata Deelen.
Selama ini, penelitian soal umur panjang memang banyak bertumpu pada studi kembar. Kembar identik yang punya hampir 100 persen DNA dibandingkan dengan kembar non-identik yang hanya berbagi sekitar 50 persen gen.
Dari situ, peneliti bisa melihat seberapa besar pengaruh gen terhadap umur seseorang.
Namun, pendekatan lama dinilai terlalu “kasar”. Banyak studi hanya melihat usia kematian tanpa memperhitungkan penyebabnya.
“Dulu, ketika kami mempelajari rentang hidup dan prediktornya, kami cenderung menggunakan angka kematian karena semua penyebab, di mana kami hanya melihat usia orang yang meninggal dan tidak benar-benar mempertimbangkan penyebabnya, penyebab kematian seringkali hilang dari catatan tersebut,” ujar Luke Pilling.
BACA JUGA:UTBK Diserang Joki dan Alat Canggih, Kampus Putus Sinyal dan Bongkar Modus Curang Peserta
Lewat model baru, tim Deelen mencoba memisahkan kematian yang memang terkait gen, seperti penyakit jantung atau penurunan fungsi tubuh, dengan kematian akibat faktor luar seperti kecelakaan.
Data yang digunakan pun tidak main-main. Mereka mengolah data kembar dari Swedia, Denmark, hingga Amerika Serikat, mencakup kelahiran tahun 1870 sampai 1935.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News