Stockholm Syndrome: Misteri Psikologis Saat Korban Justru Jatuh Cinta pada Pelakunya
Ilustrasi tentang stockholm syndrome-Gemini AI-
JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Pernahkah kamu mendengar kisah aneh di mana seorang korban kejahatan justru membela mati-matian pelakunya?
Fenomena psikologis yang sangat membingungkan ini dikenal luas oleh masyarakat dunia dengan sebutan Stockholm Syndrome.
Istilah unik ini pertama kali dicetuskan oleh kriminolog bernama Nils Bejerot pasca kejadian perampokan bank legendaris di Swedia tahun 1973.
Kala itu, para sandera secara mengejutkan membangun ikatan emosional kuat dengan perampok yang telah menyekap mereka selama enam hari.
BACA JUGA:Insecure Kulit Wajah Beruntusan? Tenang, Atasi dengan Cepat Melalui 4 Rahasia Ini!
Dalam situasi normal, sebuah penyanderaan seharusnya memicu rasa takut ekstrem dan kebencian mendalam pada diri korban.
Namun, sindrom ini membalikkan logika tersebut hingga korban merasa simpati atau bahkan menumbuhkan rasa kasih sayang pada pelaku.
Pemicunya bisa berupa durasi penyanderaan yang berlangsung lama dalam tekanan ruang isolasi yang sama antara korban dan pelaku.
Tindakan pelaku yang sesekali menahan diri untuk tidak menyakiti fisik sering kali disalahartikan oleh korban sebagai sebuah kebaikan luar biasa.
BACA JUGA:Sinyal 'Eror' dari Mata Si Kecil? Kenali Mata Malas Sebelum Jadi Kerusakan Permanen!
Para ahli psikologi menilai respon emosional yang tidak wajar ini sebagai mekanisme pertahanan diri bawah sadar untuk bertahan hidup.
Otak korban berusaha memproses trauma ekstrem dan stres berlebih dengan cara berdamai dengan sumber ancaman tersebut agar merasa lebih aman.
Menariknya, kondisi mental ini tidak hanya terbatas pada kasus kriminal besar seperti penyanderaan bank saja.
Relasi toksik, kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan antar atlet dan pelatih, hingga kasus perdagangan manusia juga bisa memicu gejala serupa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News