Tak Ingin Bernasib Sama dengan Venezuela, China Siapkan Sistem Pertahanan Udara
China tak ingin bernasib sama dengan Venezuela. Siapkan pertahanan militer.--Foto: Reuters
JAKARTA, PostingNews.id - Serangan militer Amerika Serikat di Venezuela, yang berakhir dengan penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, telah memicu pembacaan strategis di Beijing. Di tengah kecaman atas tindakan Washington, sejumlah pengamat di China melihat peristiwa itu bukan sekadar peristiwa geopolitik, tetapi juga pelajaran taktis yang berpotensi memengaruhi cara berpikir militer Beijing di masa depan.
Menurut beberapa analis China, operasi Amerika Serikat kali ini sebenarnya tidak memperkenalkan taktik yang sepenuhnya baru. Namun ada pelajaran penting yang dinilai relevan untuk strategi pertahanan udara dan keamanan nasional China.
"Tentu saja, kita perlu memperkuat sistem pertahanan udara kita," kata Fu Qianshao, pakar militer China dikutip dari South China Morning Post pada Rabu, 07 Januari 2026.
Penguatan itu dianggap perlu tidak hanya dari sisi perangkat keras, tetapi juga cara merespons ancaman yang kompleks.
Fu yang juga mantan anggota Angkatan Udara mengingatkan, Angkatan Bersenjata AS telah mempraktikkan beragam metode sejak lama, termasuk pengacakan elektromagnetik serta serangan siluman yang menarget perangkat radar dan pangkalan militer.
BACA JUGA:China Bongkar Sisi Rapuh Venezuela yang Berujung Penangkapan Maduro
"Amerika sudah menggunakan metode ini selama beberapa dekade pengacakan elektromagnetik serangan siluman penghancuran stasiun radar dan pangkalan militer Kita sudah mengamati strategi ini sejak lama," ujarnya.
Diskusi Publik di China
Reaksi serangan AS di kalangan masyarakat China juga ramai. Di platform media sosial China, operasi militer AS menjadi topik hangat yang tak hanya memantik kritik terhadap Washington, tetapi juga seruan internal untuk memperkuat kapasitas nasional.
Sejumlah netizen menyerukan penguatan, baik di bidang ekonomi maupun militer sebagai cara mempertahankan kedaulatan negara. Salah satu komentar populer menyebut "Negara yang tidak kuat pasti akan ditindas," sebuah ungkapan yang mencerminkan keresahan publik atas kejadian di Venezuela.
Selain itu, sebagian pengguna internet mengaitkan situasi Venezuela dengan kebutuhan untuk meningkatkan keamanan siber dan kemampuan melawan spionase asing. Seruan ini muncul tak lepas dari persepsi bahwa peperangan modern bukan hanya soal konfrontasi fisik, tetapi juga domain digital dan intelijen.
Perbedaan Kondisi China dan Venezuela
Meski sejumlah suara di China mendukung pembelajaran dari taktik AS, ada pula pandangan yang lebih moderat dari kalangan akademisi dan pengamat militer. Xie Maosong, peneliti senior dari sebuah lembaga studi strategis di Beijing, menyatakan bahwa kondisi China berbeda jauh dengan Venezuela.
BACA JUGA:Prabowo Bilang PKB Harus Diawasi, Cak Imin Respons Santai
Menurutnya, kecenderungan militer dan pertahanan China lebih seimbang jika dibandingkan dengan kekuatan Amerika Serikat. Serangan semacam itu, katanya, belum tentu menjadi ancaman yang harus diantisipasi secara langsung dalam konteks kebijakan militer Beijing.
Pendapat senada disampaikan Li Wei, seorang pakar anti-terorisme. Ia menilai ketimpangan kekuatan militer merupakan faktor utama yang membuat Venezuela rentan terhadap serangan. Ia menekankan bahwa langkah seperti yang dilakukan AS terhadap Caracas tidak bisa diterapkan secara seragam pada semua negara, terutama yang memiliki struktur militer lebih kuat dan terkoordinasi.
Li juga menyoroti respons Venezuela yang dinilai kurang efektif. Menurutnya, kelemahan di ranah intelijen serta perpecahan internal turut mempercepat runtuhnya kesiapan pertahanan negara tersebut terhadap serangan mendadak.
"Kita belum melihat balasan efektif dari militer Venezuela," ujarnya.
"Saya pikir masalah internal, termasuk kegagalan intel dan kolusi, memainkan peran besar di sini," lanjutnya.
BACA JUGA:Didakwa Rugikan Negara hingga Rp2,1 Triliun, Nadiem Beberkan Deretan Tugas Berat dari Jokowi
Waspada Meski Kuat
Dalam penilaian para pengamat China, meski keamanan dan pertahanan nasional relatif kuat, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan. Ancaman infiltrasi dan serangan terhadap jaringan strategis negara menjadi perhatian yang terus dikemukakan oleh para analis.
"Tentu saja, kita harus memperkuat upaya melawan infiltrasi," kata Xie, menandai adanya kesadaran atas pentingnya mempertajam kemampuan kontra-intelijen dan kontrol internal.
Dalam konteks global yang lebih luas, serangan AS di Venezuela bukan hanya menjadi bahan kritik terhadap Washington, tetapi juga ruang bagi Beijing untuk memformulasikan kembali pendekatan strategisnya.
Diskusi di China kini tak hanya soal kecaman atas tindakan asing, tetapi juga refleksi atas kekuatan dan kelemahan sendiri dalam menghadapi dinamika keamanan internasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News