Banner Yamaha Fazzio

Muktamar NU ke-35 Jangan Terjebak Politik, Pesantren Didorong Cetak Talenta AI dan Pemimpin Global

Muktamar NU ke-35 Jangan Terjebak Politik, Pesantren Didorong Cetak Talenta AI dan Pemimpin Global

Muktamar NU ke-35 didorong melahirkan blueprint pesantren agar santri menguasai agama, AI, sains, teknologi, ekonomi global dan diplomasi.-dok-

Menurut Gus Ipang, model tersebut menunjukkan bahwa modernisasi pesantren tidak sebatas pembangunan fasilitas fisik.

Perubahan yang lebih penting justru menyangkut cara pandang terhadap pendidikan, pengetahuan, dan masa depan santri.

Dengan demikian, transformasi pesantren harus menyentuh aspek epistemologi, mentalitas, kurikulum, serta orientasi pendidikan.

BACA JUGA:PBNU Pecah Kubu, Gus Yahya Tak Mau Tumbang Tanpa Muktamar

Mengapa NU Membutuhkan Blueprint Nasional Pengembangan Pesantren?

Gus Ipang berharap Muktamar ke-35 dapat menghasilkan cetak biru nasional pengembangan sumber daya manusia berbasis pesantren.

Blueprint tersebut diperlukan agar transformasi pendidikan pesantren tidak berjalan sporadis dan terpisah antarwilayah.

Dengan arah bersama, pengembangan SDM dapat memiliki target jangka panjang yang lebih terukur dan berkelanjutan.

Ia membayangkan lahirnya jutaan santri yang kuat dalam ilmu agama sekaligus memiliki kompetensi global.

Santri masa depan diharapkan mampu membaca kitab, menguasai coding, memahami geopolitik, dan mengerti ekonomi makro.

Kemampuan bahasa internasional juga dinilai penting agar santri mampu berkompetisi dalam lingkungan global.

Dengan begitu, jumlah besar warga NU dapat menjadi modal manusia yang benar-benar kompetitif secara internasional.

BACA JUGA:Prahara PBNU Memuncak! Rais Aam Resmi Berhentikan Gus Yahya, Muktamar Luar Biasa Segera Digelar!

Apakah Muktamar NU Harus Menjauh dari Politik Praktis?

Selain agenda pendidikan, Gus Ipang mengingatkan agar energi Muktamar tidak habis dalam persaingan politik internal.

Menurutnya, Muktamar seharusnya menjadi ruang pertukaran gagasan untuk menentukan arah masa depan organisasi.

Ia bahkan menyebut Jombang harus menjadi panggung transaksi gagasan peradaban, bukan transaksi kekuasaan jangka pendek.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share