Isu Merger NasDem Gerindra Meledak, Elite Ngaku Belum Bahas Meski Wacana Sudah Beredar
Isu merger NasDem dan Gerindra mencuat usai pertemuan Prabowo dan Surya Paloh, elite NasDem mengaku belum bahas serius di internal.-Foto: IG @suryapaloh.id-
JAKARTA, PostingNews.id — Isu penggabungan Partai NasDem dengan Partai Gerindra mendadak jadi perbincangan panas. Tapi di tengah ramainya kabar itu, elite NasDem justru mengaku belum menyentuh pembahasan serius di internal.
Wakil Ketua Umum Partai NasDem Saan Mustopa menegaskan, partainya masih sibuk merapikan barisan sendiri ketimbang buru-buru membicarakan fusi dengan partai lain.
“Jadi terkait dengan soal wacana fusi, itu belum menjadi pembicaraan di internal secara lebih mendalam,” ujar Saan di Kompleks DPR, Jakarta, Senin, 13 April 2026.
Pernyataan ini muncul setelah kabar dari Majalah Tempo menyebut Presiden Prabowo Subianto yang juga Ketua Umum Partai Gerindra sempat mengajukan ide penggabungan kepada Ketua Umum NasDem Surya Paloh.
Usulan itu disebut muncul saat pertemuan tertutup di Hambalang, Bogor, pada pertengahan Februari 2026. Jika benar terjadi, kekuatan dua partai ini tidak main-main, menggabungkan hampir 35 juta suara atau sekitar 23 persen dari hasil Pemilu 2024.
BACA JUGA:Istana Sebut Pengamat Kebanyakan Ngaco, Gerindra Sebut Ada Motif Rebut Kekuasaan
Namun di balik angka besar itu, respons internal NasDem disebut tidak sepenuhnya antusias. Sejumlah petinggi partai dikabarkan menilai belum ada keuntungan jelas dari langkah merger, bahkan ada kekhawatiran soal posisi dan arah politik partai ke depan.
Saan sendiri mengaku kaget dengan mencuatnya isu tersebut. Ia juga menolak istilah merger atau akuisisi, dan lebih memilih menyebutnya sebagai fusi.
Menurutnya, ide penggabungan partai sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah politik Indonesia. Namun kondisi saat ini dinilai jauh lebih kompleks.
“Misalnya terkait dengan soal konteks ideologi, konteks identitas, eksistensi partai, karena membangun atau mendirikan partai itu, para pendiri partai masing-masing, tentu punya idealisme dan gagasan dalam konteks yang berbeda-beda,” kata Saan.
BACA JUGA:Perang Timur Tengah Meledak, Harga BBM Tak Bergerak, Ditahan atau Disubsidi Diam-Diam?
Di tengah tarik-menarik kepentingan itu, wacana fusi ini menyisakan satu pertanyaan besar. Ini sekadar lemparan wacana politik biasa, atau memang langkah awal menuju konsolidasi kekuatan besar menjelang dinamika politik berikutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
