Prabowo Dituding Menang Tak Demokratis, Saiful Mujani Ajak People Power
Saiful Mujani tuding kemenangan Prabowo tak demokratis dan ajak people power, Istana balas keras sebut provokatif.-Foto: IG @kemensetneg.ri-
JAKARTA, PostingNews.id — Kemenangan Presiden Prabowo Subianto di Pilpres 2024 kini digoyang kritik tajam. Pendiri Saiful Mujani Research and Consulting, Saiful Mujani, bahkan menyebut kemenangan itu bukan hasil demokrasi yang sehat.
Menurut Saiful, kemenangan Prabowo bersama Gibran Rakabuming Raka justru mencerminkan praktik otokrasi dalam bungkus pemilu.
“Bagi saya itu adalah otokrasi lewat mekanisme pemilu yang tidak demokratis atau electoral authocracy,” ujar Saiful pada Selasa, 7 April 2026.
Pasangan Prabowo-Gibran sendiri menang telak atas dua rivalnya dan resmi dilantik oleh MPR pada 20 Oktober 2024. Namun bagi Saiful, kemenangan itu bukan akhir cerita, melainkan awal masalah.
Ia bahkan secara terbuka mengajak publik untuk menurunkan Prabowo dari kursi kekuasaan. Kritiknya tak main-main, mulai dari soal kapasitas hingga gaya kepemimpinan.
“Di mata saya Prabowo secara umum tidak berwibawa dan tidak kompeten sehingga saya ngajak menurunkannya,” kata Saiful.
Ia juga mempertanyakan kualitas kepemimpinan Prabowo sebagai presiden.
BACA JUGA:Israel Legalkan Hukuman Mati Tahanan Palestina, IMM Ini Genosida Berkedok Hukum
“Prabowo tidak presidensial. Seorang presiden yang presidensial bagi saya adalah yang inklusif, menerima keragaman aspirasi, bersikap dan bertindak beyond partisan politics,” ujarnya.
Menurut Saiful, jalur konstitusional lewat DPR sulit diharapkan karena kekuatan politik Prabowo dinilai terlalu dominan di parlemen. Menunggu Pemilu 2029 pun dianggap terlalu lama.
Karena itu, ia mendorong opsi lain yang lebih ekstrem.
“Maka jalan alternatif menjatuhkan Prabowo adalah lewat people power,” ucapnya.
Saiful bahkan menyinggung sejarah Indonesia, mulai dari 1966 hingga 1998, ketika tekanan massa mampu menggulingkan kekuasaan. Baginya, gerakan ini penting untuk melemahkan legitimasi pemerintahan saat ini.
“Gerakan ini setidaknya untuk mendelegitimasi Prabowo yang tidak presidensial itu, dan memperkuat oposisi massa,” kata Saiful.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
