SPPG Cimahi Milik Pria Joget Disetop BGN
BGN hentikan operasional SPPG Cimahi usai pemiliknya viral joget tanpa APD dan pamer keuntungan Rp6 juta per hari di media sosial-Foto: Dok. IG Hendrik Irawan MBG-
JAKARTA, PostingNews.id — Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di Cimahi milik Hendrik Irawan akhirnya dihentikan sementara. Keputusan ini diambil Badan Gizi Nasional setelah aksi pemiliknya viral di media sosial.
Hendrik sebelumnya menuai sorotan usai berjoget tanpa mengenakan alat pelindung diri di area dapur SPPG. Tak hanya itu, ia juga memamerkan keuntungan program yang disebut mencapai Rp6 juta per hari.
Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana menegaskan penghentian ini bersifat sementara sambil menunggu pembenahan fasilitas. “Sementara dihentikan sampai terjadi perbaikan fasilitas,” kata Dadan saat dihubungi, Rabu, 25 Maret 2026.
Selain menghentikan operasional, BGN juga telah memberikan teguran kepada Hendrik. Ia diminta menyampaikan permintaan maaf secara terbuka atas kegaduhan yang muncul.
Permintaan maaf itu kemudian disampaikan Hendrik melalui akun Instagram pribadinya sehari sebelumnya. Ia mengaku khilaf dan bahkan menyampaikan permohonan maaf kepada Presiden Prabowo Subianto.
BACA JUGA:Budi Arie Temui Jokowi di Solo, Silaturahmi Lebaran atau Konsolidasi?
Di tengah polemik, Hendrik mencoba menjelaskan soal angka Rp6 juta yang ia sebut sebelumnya. Ia mengklaim angka tersebut merupakan bagian dari skema operasional yang telah diatur oleh Badan Gizi Nasional. “Kami membangun dapur hampir 1.000 meter persegi, semuanya dari uang pribadi, bukan dari pemerintah,” ujar Hendrik.
Ia juga menyebut investasi yang sudah dikeluarkan tidak kecil. Menurutnya, pembangunan dapur SPPG itu menelan biaya hingga Rp3,5 miliar dan hingga kini belum balik modal.
“Sampai sekarang kami belum balik modal. Insentif itu juga bukan hanya untuk dapur saya, tapi berlaku untuk semua SPPG,” kata dia.
Kasus ini jadi sorotan karena menyentuh dua hal sekaligus, standar operasional program pemerintah dan transparansi keuntungan di lapangan. Di satu sisi, program pemenuhan gizi didorong untuk berjalan masif. Di sisi lain, pelaksana di lapangan justru membuka sisi lain yang selama ini jarang terlihat publik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
