Bukan Lagi Uang Tunai, KPK Ungkap Tren Suap Kini Berwujud Emas

Bukan Lagi Uang Tunai, KPK Ungkap Tren Suap Kini Berwujud Emas

Tren emas yang kini jadi pola suap baru bagi koruptor.-@infopegadaian-Instagram

JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Harga emas yang terus menanjak dalam setahun terakhir mengubah pola suap di lingkaran birokrasi. Barang berukuran kecil dengan nilai tinggi kini makin diminati pelaku korupsi. Emas menjadi pilihan karena mudah disimpan dan tidak mencolok.

Kecenderungan itu terbaca dalam sejumlah operasi tangkap tangan yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi. Dalam beberapa pengungkapan perkara terbaru, penyidik menyita kepingan logam mulia dari tangan para terduga pelaku. Jumlahnya tidak sedikit.

Pelaksana tugas Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu menyebut tren suap berbentuk emas memang meningkat. Lonjakan harga emas ikut memperkuat daya tarik komoditas ini sebagai alat transaksi ilegal.

"Memang benar (trennya naik), apalagi sekarang tren harga emas yang dalam beberapa bulan terakhir ini terus meninggi ya, menanjak gitu ya. Walaupun di minggu kemarin setelah hampir mencapai Rp 3 juta sekian per gram, kemudian turun lagi ke angka sekitar Rp 2,9 (juta) sekian ya, karena walaupun diramalkan akan sampai di Rp 5 juta per gram," ujar Asep dalam jumpa pers di Gedung KPK, Jakarta, Kamis 05 Februari 2026.

Menurut Asep, karakter barang suap umumnya mengutamakan kepraktisan. Bukan hanya bernilai tinggi, tetapi juga mudah dibawa dan diserahkan tanpa menarik perhatian.

BACA JUGA:Prabowo Tegaskan Tak Ada Bangsa Bisa Maju Jika Pemimpinnya Tak Rukun

"Kan jadi barang yang digunakan untuk memberikan suap itu biasanya adalah barang-barang yang ringkas, barang-barang yang kecil tetapi memiliki nilai besar. Ya yang legal, seperti itu," kata dia.

Asep menambahkan, tidak tertutup kemungkinan suap juga diberikan dalam bentuk barang ilegal. Modus ini bergantung pada kesepakatan antar pihak yang terlibat.

"Tapi bisa saja gitu kan pemberian itu bisa saja dengan barang-barang yang ilegal juga seperti itu," ujarnya.

Selain emas, mata uang asing dengan kurs tinggi juga kerap digunakan. Uang kertas bernilai besar dinilai lebih efisien dibandingkan rupiah pecahan besar yang volumenya lebih banyak.

"Satu lembar misalkan mata uang asing, itu berharga sekian puluh juta ya gitu kan. Atau berapa puluh juta, berapa belas juta seperti itu, sehingga memudahkan bagi mereka untuk menggunakannya," tutur Asep.

BACA JUGA:Ubah Apartemen Jadi Safe House, Cara Pejabat Bea Cukai Simpan Uang Hasil Suap Impor Barang KW

Ia mengatakan, pilihan menerima emas dan valuta asing membuat nilai suap bisa disimpan dalam bentuk yang ringan dan ringkas. Bebannya jauh lebih kecil dibandingkan membawa uang tunai rupiah dalam jumlah besar.

Pola ini tercermin dari barang bukti yang belakangan disita penyidik. Dalam beberapa penindakan, emas muncul sebagai temuan dominan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share

Berita Terkait