Di Tengah Ancaman Militer, Trump Bingung Iran Belum Juga Menyerah
-Foto: BBC.-
Pernyataan itu kembali memunculkan diskusi mengenai kemungkinan perubahan politik di Iran, meski belum jelas sejauh mana dukungan internasional terhadap gagasan tersebut.
Negosiasi Nuklir Masih Berlangsung
Komentar Witkoff muncul tidak lama setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa rancangan proposal perjanjian dengan Amerika Serikat hampir rampung dan diperkirakan siap dalam beberapa hari ke depan.
Sebelumnya, Trump memberikan batas waktu maksimal 15 hari bagi Iran untuk mencapai kesepakatan terkait sejumlah isu yang berkaitan dengan program nuklirnya. Tenggat tersebut menambah tekanan terhadap proses negosiasi yang berjalan di tengah meningkatnya kehadiran militer AS di kawasan.
Di saat pembicaraan terus berlangsung di Jenewa, pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan bahwa upaya tekanan Washington tidak akan mampu menjatuhkan negaranya. Pernyataan itu menunjukkan bahwa posisi Teheran tetap keras meski tekanan internasional meningkat.
BACA JUGA:Data Konsumen Indonesia Bakal Ditransfer ke AS, Ini Isi Kesepakatan Tarif Resiprokal
Negara-negara Barat selama ini menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir. Tuduhan tersebut secara konsisten dibantah pemerintah Iran yang menyatakan program nuklirnya bertujuan damai.
Di sisi lain, Teheran berusaha mendorong pencabutan sanksi ekonomi internasional yang selama bertahun-tahun membebani perekonomian domestik. Sanksi tersebut dinilai turut memicu tekanan sosial dan gelombang protes anti-pemerintah yang sempat terjadi pada Desember lalu.
Hingga kini, arah pembicaraan di Jenewa masih belum menghasilkan keputusan final. Namun hasil negosiasi tersebut dipandang krusial dalam menentukan apakah ketegangan Amerika Serikat dan Iran akan mereda melalui jalur diplomasi atau justru bergerak menuju konfrontasi yang lebih luas di Timur Tengah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News