Demokrasi Diserang AI Diam-Diam, Opini Publik Bisa Direkayasa Tanpa Demo dan Tanpa Massa
Ancaman AI terhadap demokrasi makin nyata, opini publik bisa direkayasa lewat persona digital tanpa disadari pengguna media sosial.-Foto: IG @infosemarangterkini-
JAKARTA, PostingNews.id — Kecerdasan buatan kini bukan sekadar alat bantu teknologi. Di balik kecanggihannya, muncul ancaman baru yang lebih halus tapi jauh lebih berbahaya bagi sistem politik, termasuk di Indonesia. Tanpa turun ke jalan, tanpa kerumunan massa, opini publik bisa digiring pelan-pelan lewat dunia digital.
Sejumlah peneliti lintas negara memperingatkan, persona digital yang dikendalikan AI kini makin sulit dibedakan dari manusia asli. Mereka bisa masuk ke ruang percakapan publik, ikut berdiskusi, bahkan membentuk arah opini tanpa disadari pengguna lain.
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Science yang mengulas bagaimana jaringan besar akun berbasis AI mampu meniru perilaku manusia secara meyakinkan di internet.
Bukan sekadar bot biasa, sistem ini bekerja jauh lebih canggih. Mereka bisa berinteraksi secara real time, merespons percakapan, dan menjaga narasi yang sama di ribuan akun sekaligus.
BACA JUGA:UTBK Diserang Joki dan Alat Canggih, Kampus Putus Sinyal dan Bongkar Modus Curang Peserta
Kemajuan teknologi seperti model bahasa besar membuat satu operator bisa mengendalikan banyak “identitas” sekaligus. Persona AI ini bisa menyesuaikan gaya bahasa, mengikuti konteks lokal, bahkan berdebat seperti manusia sungguhan.
Lebih dari itu, mereka mampu menguji jutaan variasi pesan untuk mencari mana yang paling efektif memengaruhi orang. Dari situ, mereka membangun kesan seolah-olah ada kesepakatan publik yang luas.
Padahal, yang terlihat sebagai suara mayoritas itu sebenarnya hasil rekayasa sistem.
Deepfake dan Media Palsu Sudah Jadi Alarm
Tanda-tanda ancaman ini sebenarnya sudah muncul. Mulai dari video deepfake hingga media palsu yang ikut memengaruhi percakapan politik dalam pemilu di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Ilmuwan komputer dari University of British Columbia, Kevin Leyton-Brown, yang terlibat dalam riset ini menyebut fenomena tersebut sudah terlihat nyata.
Organisasi pemantau juga menemukan adanya jaringan akun yang memproduksi konten dalam jumlah besar. Aktivitas ini diduga bukan sekadar propaganda, tapi juga untuk “melatih” sistem AI agar makin pintar memengaruhi opini publik di masa depan.
BACA JUGA:Rahasia Umur Panjang Terbongkar, Sains Bilang 50 Persen Ditentukan Gen, Sisanya Gaya Hidup
Para peneliti menilai dampaknya tidak main-main. AI berpotensi mengubah cara masyarakat mempercayai informasi di internet.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News