Banner Internal

Saiful Mujani Bunyikan Alarm Demokrasi, Publik Dinilai Makin Takut Bicara Politik di Era Prabowo

Saiful Mujani Bunyikan Alarm Demokrasi, Publik Dinilai Makin Takut Bicara Politik di Era Prabowo

Saiful Mujani mengungkap survei SMRC yang menunjukkan publik semakin takut berbicara politik di era Prabowo dan kebebasan dinilai menurun.-Foto: Kompas-

JAKARTA, PostingNews.id– Ruang kebebasan berbicara politik di Indonesia dinilai semakin menyempit. Pendiri Saiful Mujani Research Center and Consulting (SMRC), Saiful Mujani, menyebut masyarakat kini lebih takut menyampaikan pandangan politik secara terbuka dibanding pada masa awal Reformasi.

Penilaian itu merujuk pada hasil survei SMRC yang dilakukan pada Maret 2026. Menurut Saiful, perubahan tersebut menjadi sinyal bahwa kualitas kebebasan berekspresi mengalami kemunduran.

"Pada awal Reformasi, kalau dibuat skala dari nol sampai sepuluh, skornya waktu itu tujuh. Sekarang hanya mendapatkan angka tiga," ujar Saiful saat memberikan sambutan dalam Konferensi Republik di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Minggu, 28 Juni 2026.

Ia menjelaskan survei tersebut mengukur persepsi masyarakat mengenai rasa takut berbicara politik. Hasilnya menunjukkan tiga dari sepuluh responden mengaku takut menyampaikan pandangan politik secara terbuka. Bagi Saiful, kondisi itu menjadi indikator bahwa ruang kebebasan berbicara semakin menyempit.

Saiful juga mengacu pada teori demokrasi Varieties of Democracy (V-Dem) yang menjadikan kebebasan berekspresi sebagai salah satu indikator utama kualitas demokrasi. Dalam kerangka tersebut, pemerintah dinilai harus menghormati hak warga negara untuk menyampaikan pendapat, termasuk kebebasan politik dan kebebasan akademik.

BACA JUGA:Prabowo Kunci Ruangan, Ngomong 5 Jam ke Dosen, Akui Butuh Orang-Orang Pintar Buat Urus Negara

Mengacu pada analisis V-Dem, skor kebebasan Indonesia pada periode 2000 hingga 2010 rata-rata berada di angka tujuh. Namun pada 2025, nilainya turun menjadi di bawah lima.

"Jadi dari tujuh, sekarang posisinya rata-rata berada di angka empat jika dilihat dari seluruh aspek tersebut," kata Saiful.

Berdasarkan temuan tersebut, Saiful menilai tingkat kebebasan saat ini berada pada level yang mengkhawatirkan. Ia juga menyoroti meningkatnya rasa takut masyarakat terhadap kemungkinan tindakan sewenang-wenang aparat negara maupun potensi pelanggaran terhadap konstitusi.

"Rasa takut itu harus dilawan," tegasnya.

Temuan serupa sebelumnya telah dipaparkan Saiful dalam program Bedah Politik di kanal YouTube SMRC TV pada 30 April 2026. Paparan tersebut mengacu pada rangkaian survei nasional SMRC dan LSI yang memotret persepsi publik mengenai kebebasan berbicara politik.

Data survei menunjukkan bahwa sejak Oktober 2024, ketika Prabowo Subianto mulai menjabat sebagai presiden, persepsi mengenai rasa takut berbicara politik mulai meningkat. Pada saat itu, sebanyak 51 persen responden menilai masyarakat takut membahas politik. Angka tersebut kemudian naik menjadi 53 persen pada Maret 2026.

BACA JUGA:Zulhas Minta Pilkada Dipilih DPRD, Sebut Ongkos Politik Bupati Bisa Tembus Rp100 Miliar

Saiful menyampaikan paparan itu dalam Konferensi Republik yang akhirnya digelar di Cikini, Jakarta Pusat. Semula, acara tersebut dijadwalkan berlangsung di Kampus Universitas Indonesia, Salemba. Namun, penyelenggara menyebut penggunaan lokasi dibatalkan secara mendadak dengan alasan kegiatan tidak memenuhi prosedur administrasi.

Konferensi Republik turut dihadiri sejumlah tokoh dari berbagai kalangan, di antaranya Sudirman Said dan Yanuar Nugroho.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share

Berita Terkait