Iran-Israel Terus Memanas, Luhut Ingatkan Indonesia Jangan Ikut-Ikutan
Luhut meminta Indonesia tidak ikut memusuhi Iran di tengah konflik Timur Tengah dan menegaskan prinsip politik luar negeri bebas aktif. -Foto: IG @luhut.pandjaitan-
Menurut Luhut, dampaknya bisa meluas hingga ke negara mitra dagang utama Indonesia seperti Cina. Negara tersebut selama ini mendapatkan sebagian pasokan energinya dari Iran, Venezuela, dan Rusia.
Jika ekonomi Cina mengalami tekanan, maka efeknya hampir pasti akan terasa hingga ke berbagai sektor ekonomi Indonesia. “Kalau ekonomi Cina luka, ekonomi kita juga akan terkena,” ujar Luhut.
Iran Tidak Mudah Dikalahkan
Dalam pandangannya, konflik ini tidak akan mudah berakhir. Luhut menilai Iran memiliki daya tahan nasional yang kuat meski harus menghadapi tekanan militer dari Amerika Serikat dan Israel sekaligus. Ia mengingatkan bahwa sejarah menunjukkan bangsa Iran memiliki karakter yang tidak mudah menyerah.
Iran, menurutnya, merupakan bangsa yang selama ribuan tahun tidak pernah dijajah dan memiliki tradisi perlawanan yang kuat dalam berbagai konflik sejarah.
Ketahanan itu juga terlihat dari respons Iran setelah sejumlah pemimpin penting negara tersebut tewas dalam serangan militer Amerika Serikat. Alih-alih melemah, serangan balasan justru terus berlanjut dan memperlihatkan bahwa konflik masih jauh dari kata selesai.
Melihat dinamika tersebut, Luhut menegaskan bahwa pilihan paling realistis bagi Indonesia adalah tetap berada di posisi tengah dan tidak memusuhi salah satu pihak.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia tidak memiliki kepentingan untuk ikut dalam permusuhan global yang justru berpotensi merugikan kepentingan nasional. “Jadi kita jangan jadi bermusuhan sama dia. Enggak ada gunanya,” kata Luhut.
Menurut dia, menjaga stabilitas dalam negeri serta memperkuat ketahanan ekonomi jauh lebih penting bagi Indonesia di tengah ketidakpastian geopolitik global yang terus meningkat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News