Menlu AS Klaim Terpaksa Ikut Perang Lawan Iran Karena Dipaksa Israel

Menlu AS Klaim Terpaksa Ikut Perang Lawan Iran Karena Dipaksa Israel

Menlu AS Mark Rubio mengaku Washington terpaksa ikut perang Iran karena langkah Israel, korban militer bertambah dan konflik kian meluas.-Foto: Al-Jazeera-

Kampanye udara itu dikabarkan menewaskan sejumlah tokoh penting Iran, termasuk pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Militer AS mengakui enam personel mereka tewas dalam operasi tersebut. Sementara Bulan Sabit Merah Iran menyebut lebih dari 500 orang meninggal dunia di wilayah Iran.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menanggapi keras pernyataan Rubio. “Tuan Rubio mengakui apa yang kita semua tahu. AS memasuki perang pilihan atas nama Israel. Tidak pernah ada apa yang disebut sebagai ancaman Iran,” tulis Araghchi dalam unggahannya di X.

Ia menambahkan, “Penumpahan darah Amerika dan Iran adalah tanggung jawab ‘Israel Firsters’. Rakyat Amerika berhak mendapatkan yang lebih baik dan harus mengambil kembali negara mereka.”

BACA JUGA:Megawati Kirim Surat Duka ke Iran atas Syahidnya Ayatollah Ali Khamenei

Pernyataan ini mempertegas posisi Teheran yang sejak awal menilai Washington bertindak sebagai perpanjangan kepentingan Israel.

Netanyahu Klaim Waktu Sudah Mendesak

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memiliki versi berbeda. Dalam wawancara dengan Fox News, ia menyebut Iran sedang membangun fasilitas baru yang akan membuat program rudal balistik dan nuklir mereka kebal dalam beberapa bulan.

“Jadi mereka mulai membangun situs baru, tempat baru, bunker bawah tanah, yang akan membuat program rudal balistik dan program bom atom mereka kebal dalam beberapa bulan,” katanya.

“Jika tidak ada tindakan yang diambil sekarang, tidak ada tindakan yang bisa diambil di masa depan,” tambahnya.

Narasi ini menempatkan serangan sebagai tindakan preventif sebelum Iran mencapai titik yang sulit dijangkau militer.

BACA JUGA:PKB Kecam Serangan AS–Israel ke Iran, Dunia Diingatkan pada Hukum Rimba

Namun tidak semua pihak di Washington sepakat dengan framing tersebut. Henry Ensher, mantan duta besar AS dan wakil menteri luar negeri, menilai retorika bahwa serangan perlu dilakukan karena Israel akan mendahului justru memperkuat kecurigaan publik. “Beberapa orang bahkan mengatakan bahwa Israel memimpin kebijakan Timur Tengah kami,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa narasi semacam itu akan memperdalam kesan bahwa kebijakan luar negeri AS terikat pada kepentingan Israel.

“Saya menduga kita akan melihat pemerintahan AS berbicara lebih banyak tentang kepentingan nasional AS dan mengapa perlu bertindak berdasarkan kepentingan tersebut di masa depan,” katanya. “Kita sudah berada dalam perang regional yang lebih luas.”

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share