Produksi Minyak Terus Turun, Pemerintah Siapkan Pencabutan Izin 301 Wilayah Kerja Migas

Produksi Minyak Terus Turun, Pemerintah Siapkan Pencabutan Izin 301 Wilayah Kerja Migas

Bahlil Lahadalia.-Foto: IG @bahlillahadalia-

JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Pemerintah bersiap mengambil langkah tegas terhadap ratusan wilayah kerja minyak dan gas bumi yang dinilai tidak menunjukkan kemajuan berarti. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menegaskan izin pengelolaan dapat dicabut apabila proyek tidak segera dijalankan meski seluruh tahapan awal telah rampung.

Menurut Bahlil, terdapat 301 wilayah kerja migas yang telah menyelesaikan fase eksplorasi serta mengantongi persetujuan rencana pengembangan atau Plan of Development. Namun, hingga kini proyek-proyek tersebut belum memasuki tahap operasi produksi.

"Ada 301 wilayah kerja yang sudah selesai eksplorasi dan belum jalan-jalan, sekarang kita kasih ultimatum. Kalau tidak (jalan) kita cabut (izinnya)," ujarnya dalam Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat 13 Februari 2026.

Pemerintah, kata dia, telah melayangkan peringatan kepada para kontraktor kontrak kerja sama agar segera merealisasikan investasi sekaligus memulai produksi. Kebijakan ini diambil di tengah tren penurunan produksi minyak nasional yang berlangsung dalam beberapa dekade terakhir.

Produksi minyak Indonesia pernah mencapai kisaran 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari pada periode 1996 sampai 1997. Setelah itu angkanya terus menyusut. Salah satu penyebab utama adalah kondisi sumur yang semakin menua sehingga produktivitas menurun.

BACA JUGA:Geger! Ada Lab Sabu Rahasia di Apartemen Sunter, Jaringan Narkoba Iran–Indonesia Terbongkar

Data pemerintah menunjukkan Indonesia memiliki sekitar 40.000 sumur migas. Dari jumlah tersebut, sekitar 18.000 sumur masih aktif berproduksi. Sisanya berstatus idle well atau tidak beroperasi.

Bahlil menyinggung proyek gas di Blok Masela yang dikelola Inpex sebagai contoh percepatan yang terjadi setelah pemerintah meningkatkan tekanan kepada pengelola proyek.

Menurut dia, perkembangan investasi mulai terlihat setelah adanya dorongan kuat dari pemerintah.

Nilai investasi proyek tersebut diperkirakan mencapai 18 miliar dollar Amerika Serikat atau sekitar Rp 302,9 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.830 per dollar Amerika Serikat.

"Tidak jalan-jalan tapi begitu surat cinta kita kasih, Alhamdulillah kita jalan investasi US$ 18 miliar," tegas Bahlil.

Selain mendorong proyek besar, pemerintah juga berupaya meningkatkan produksi melalui pengaktifan sumur minyak milik masyarakat. Jumlah sumur yang masuk kategori ini diperkirakan mencapai sekitar 45.000 titik.

BACA JUGA:Ramadhan dan Lebaran 2026 Akan Disulap Lebih Semarak, Ini Rencana Pramono Anung

Langkah tersebut, menurut Bahlil, sekaligus menjadi upaya memperluas manfaat ekonomi sektor migas agar tidak hanya dinikmati perusahaan besar, badan usaha milik negara, maupun investor asing. Pemerintah ingin perputaran ekonomi juga dirasakan masyarakat di tingkat bawah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share

Berita Terkait