Trump Bakal Serang Iran, Tunggu Sinyal Terakhir dari Perundingan Jenewa
Donald Trump--Foto: Reuters
JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump belum menetapkan keputusan akhir terkait kemungkinan aksi militer terhadap Iran. Ketegangan di Timur Tengah meningkat seiring pengerahan kekuatan militer Amerika dalam skala besar. Pemerintahannya masih menimbang jalur diplomasi sambil menyiapkan berbagai opsi respons.
Keputusan Washington kini sangat bergantung pada hasil penilaian dua utusan khusus presiden. Pada saat bersamaan, perundingan penting antara Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan berlangsung di Jenewa pada Kamis, 26 Februari 2026.
Perundingan Jenewa menjadi titik krusial
Sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan internal pemerintahan menyebutkan pertimbangan Trump mengenai kemungkinan serangan udara sangat dipengaruhi masukan utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner. Keduanya ditugaskan memimpin perundingan yang oleh pejabat Amerika disebut sebagai peluang diplomasi terakhir.
Penilaian kedua utusan itu akan menentukan apakah Iran benar-benar bernegosiasi secara serius atau hanya berupaya menunda waktu. Kesimpulan mereka diperkirakan menjadi faktor penting dalam keputusan akhir presiden.
Pemerintah Amerika saat ini menunggu proposal terbaru dari Teheran terkait pembatasan program nuklirnya. Jika jalur diplomasi menemui jalan buntu, Trump dilaporkan mempertimbangkan respons bertahap.
BACA JUGA:Diburu Bertahun-tahun, Gembong Narkoba El Mencho Berujung Tewas Setelah Lokasinya Dibongkar Kekasih
Pilihannya berkisar dari serangan udara terbatas untuk menekan Iran kembali ke meja perundingan hingga operasi militer skala besar yang bertujuan mengguncang pemerintahan yang berkuasa di negara itu.
Seorang pejabat Amerika pada Senin menyatakan Witkoff terlibat dalam seluruh pembahasan strategis mengenai Iran. Ia tetap menjadi tokoh sentral dalam kelompok penasihat yang merumuskan berbagai opsi kebijakan bagi presiden.
Berbagai skenario militer dibahas
Trump telah menerima sejumlah pengarahan mengenai kemungkinan langkah militer. Salah satunya berlangsung dalam pertemuan di Situation Room Gedung Putih pada Rabu. Dalam beberapa pekan terakhir, ia juga meminta pandangan pejabat senior di lingkungan West Wing.
Diskusi tersebut melibatkan sejumlah pejabat tinggi, antara lain Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Direktur CIA John Ratcliffe, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles, serta Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard.
Vance disebut menyampaikan argumen yang mendukung sekaligus menentang opsi serangan udara. Ia juga meminta Caine menjelaskan risiko operasional yang mungkin muncul. Kekhawatiran utama militer berkaitan dengan keterbatasan stok sistem pertahanan antirudal.
BACA JUGA:Tahapan Sanksi Pengembalian Dana LPDP yang Harus Dilalui Suami Dwi Sasetyaningtyas
Dalam serangan Amerika tahun lalu terhadap fasilitas pengayaan nuklir Iran, Washington menggunakan 30 rudal Patriot untuk menghadapi potensi serangan balasan. Jumlah tersebut menjadi penggunaan terbesar sistem itu sepanjang sejarah militer Amerika.
Kala itu respons Iran dinilai terukur. Namun situasi saat ini berbeda. Teheran telah menyatakan akan memberikan pembalasan maksimal jika terjadi serangan baru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News