Trump Bakal Serang Iran, Tunggu Sinyal Terakhir dari Perundingan Jenewa

Trump Bakal Serang Iran, Tunggu Sinyal Terakhir dari Perundingan Jenewa

Donald Trump--Foto: Reuters

Pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei baru-baru ini memperingatkan negaranya memiliki kemampuan menenggelamkan kapal perang Amerika apabila agresi kembali terjadi.

Meski Jenderal Caine dilaporkan menyampaikan sejumlah kekhawatiran dalam diskusi internal Pentagon, Gedung Putih membantah adanya perpecahan pandangan.

Juru bicara Anna Kelly mengatakan, Caine adalah “seorang profesional yang sangat dihormati yang pekerjaannya mengharuskannya memberikan informasi yang tidak bias kepada Panglima Tertinggi, dan ia melakukannya dengan sempurna,” serta menegaskan bahwa ia tidak menyampaikan pandangan pribadi mengenai isu tersebut.

BACA JUGA:Wali Kota Bekasi Marah di Lokasi Galian Kabel Optik, Pekerjaan Langsung Dihentikan

Diplomasi masih diupayakan

Di tengah peningkatan kesiapan militer, pemerintahan Trump tetap membuka ruang negosiasi untuk menghindari konflik terbuka. Salah satu gagasan yang dibahas adalah memberi izin kepada Iran mempertahankan tingkat pengayaan nuklir yang sangat terbatas dan diawasi ketat, khusus untuk kepentingan medis, pengobatan, atau energi sipil.

Namun posisi kedua pihak tampak semakin sulit dipertemukan. Dalam wawancara di Fox News, Witkoff menyatakan arahan Trump adalah memastikan Iran tidak memiliki kemampuan pengayaan sama sekali.

Sebaliknya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kepada CBS bahwa negaranya tidak siap melepaskan hak pengayaan tersebut. Pernyataan itu memperlihatkan jarak posisi yang masih lebar menjelang perundingan Jenewa.

Pengerahan militer terbesar sejak invasi Irak

Seiring meredupnya harapan diplomasi, Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militernya di kawasan. Washington mengerahkan konsentrasi kekuatan udara terbesar di Timur Tengah sejak invasi Irak pada 2003.

Kapal induk terbaru Angkatan Laut Amerika, USS Gerald Ford, diperkirakan tiba dalam beberapa hari untuk bergabung dengan kelompok kapal induk lain yang sudah berada di wilayah tersebut.

BACA JUGA:Upaya Penerobosan di Rumah Donald Trump Berujung Tembakan, Pria Bersenjata Tewas di Tempat

Pengerahan itu mencakup puluhan jet tempur F-35 dan F-22, serta pesawat pengebom dan pesawat pengisian bahan bakar di udara. Kehadiran armada tersebut memungkinkan operasi udara berkelanjutan.

Situasi ini berbeda dengan operasi musim panas lalu ketika pembom B-2 diterbangkan langsung dari Amerika Serikat untuk menyerang fasilitas pengayaan di Fordow, Isfahan, dan Natanz.

Trump menegaskan keputusan akhir

Di tengah spekulasi mengenai perbedaan pandangan dalam tim keamanan nasionalnya, Trump berupaya meredakan isu tersebut. Melalui unggahan di Truth Social, ia membantah laporan yang menyebut Jenderal Daniel Caine menentang kemungkinan aksi militer terhadap Iran.

Trump menyebut laporan itu tidak berdasar dan menuding media mengandalkan sumber anonim tanpa bukti. Ia mengatakan bahwa meskipun para pejabat militer pada dasarnya ingin menghindari perang, Caine meyakini bila operasi militer diperintahkan maka langkah itu akan menjadi “sesuatu yang mudah dimenangkan”.

Presiden juga menyinggung pengalaman Caine memimpin operasi “Midnight Hammer”, yang menurutnya berhasil melumpuhkan kemampuan pengembangan nuklir Iran melalui serangan pembom B-2.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share

Berita Terkait