JAKARTA, POSTINGNEWS - Sebagian besar orang awam seringkali menyamakan kebiasaan tidur di lantai dengan potensi risiko penyakit rematik.
Dalam masyarakat umum, kepercayaan tersebut sering diikuti dengan anggapan bahwa tidur di lantai dapat menyebabkan nyeri atau sakit pada bagian tubuh tertentu, yang dianggap sebagai gejala rematik.
Namun, dr. Liauw Roger Leo, seorang dokter spesialis ortopedi dan traumatologi, menyoroti adanya kesalahpahaman mengenai korelasi antara nyeri saat tidur di lantai dengan penyakit rematik.
BACA JUGA:6 Manfaat Sayur Daun Kelor Bagi Kesehatan Tubuh Manusia, Intip Resep Rahasianya Juga Yuk
Menurut dr. Roger, untuk menegakkan diagnosis rematik, langkah pertama yang diperlukan adalah melakukan pemeriksaan Rheumatoid Factor (RF) melalui proses laboratorium.
Ia menjelaskan bahwa rematik sebenarnya merupakan suatu kondisi autoimun yang tidak terkait dengan kebiasaan tidur di lantai.
Penyebab rematik-stefamerpik-Freepik
Penjelasan ini menyoroti pentingnya memahami aspek medis yang mendasari gejala tubuh yang dialami, daripada hanya mengandalkan asumsi yang tidak terbukti secara ilmiah.
"Itu kondisi kelainan pada sendi inflamasi yang sebenarnya harus ditemukan itu rheumatoid factor jadi dia seperti kayak autoimun sebenarnya," jelas dr.Roger, pada hari Kamis, 28 Februari 2024.
Ia juga menegaskan kembali bahwa rematik tidak dapat dipastikan tanpa melakukan pemeriksaan lab lebih lanjut.
"Jadi dia harus ada RF atau pemeriksaan lab harus positif dulu baru disebut rematik atau rheumatoid. Tanpa itu kita nggak bisa mengatakan bahwa seseorang mengalami rematik," tutur dr. Roger
Dokter Liauw Roger Leo menjelaskan bahwa rematik adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan secara total.
Meskipun demikian, ia menekankan bahwa rasa nyeri yang mungkin timbul setelah tidur di lantai dapat diatasi dengan lebih mudah melalui pijatan relaksasi.
BACA JUGA:Sudah Coba 6 Menu Point Coffee Ini? Pasti Bakal Jadi Minuman Favorit Kamu Nih!