Ceramah Disorot Laporan Mengalir, JK Kumpulkan Tokoh Malino untuk Redam Polemik
Ceramah Jusuf Kalla soal konflik Poso dan Ambon diprotes hingga dilaporkan, JK kumpulkan tokoh Malino untuk beri klarifikasi.-Foto: Antara-
JAKARTA, PostingNews.id — Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla akhirnya buka ruang klarifikasi setelah ceramahnya soal konflik Poso dan Ambon menuai polemik. Ia mengumpulkan sejumlah tokoh yang terlibat dalam Perjanjian Malino I dan II di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan.
Pertemuan yang digelar pada Selasa, 21 April 2026 itu disebut sebagai upaya menjelaskan maksud pernyataannya yang sempat disorot publik. “Saya mengundang bapak-bapak, teman-teman dari Ambon, Poso untuk memberikan pengertian kita semua,” ujar JK.
Polemik ini berawal dari ceramahnya di Masjid Universitas Gadjah Mada pada 5 Maret 2026. Dalam forum itu, JK menyinggung konflik lama di Poso dan Ambon yang menurutnya salah satunya dipicu oleh faktor agama.
Pernyataan tersebut berbuntut panjang. Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia bersama sejumlah kelompok lain melaporkan JK ke Polda Metro Jaya. Mereka menilai ucapan JK menimbulkan keresahan dan berpotensi menyinggung ajaran agama, terutama terkait penggunaan istilah syahid.
BACA JUGA:Usai 10 Hari di Antariksa, Astronaut Artemis II Alami Gangguan Berjalan Gegara Ini
Ketua Umum GAMKI Sahat Martin menegaskan langkah hukum diambil agar polemik tidak melebar.
“Kami melaporkan kepada Polda Metro Jaya sehingga pernyataan yang sudah menimbulkan kegaduhan di masyarakat dan di media sosial ini bisa lebih terarah untuk kemudian diselesaikan secara hukum,” ujar Sahat pada Senin, 13 April 2026.
Kritik serupa datang dari Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik Stefanus Asat Gusma. Ia menilai pernyataan JK tidak sejalan dengan ajaran Kristen dan Katolik yang tidak membenarkan kekerasan.
“Harapan kami, sebagai toko bangsa, Bapak JK segera merespons ini dengan baik, paling tidak memberikan pernyataan terbuka, meminta maaf, dan mengklarifikasi semuanya,” kata Stefanus.
Di tengah tekanan itu, JK menegaskan dirinya tidak bermaksud menyerang agama mana pun. Ia menyebut ceramahnya justru ingin menyoroti bagaimana agama kerap dijadikan pembenaran dalam konflik.
BACA JUGA:Jangan Tunggu Parah, 5 Trik Ini Ampuh Hindari Katarak Sejak Usia Muda: Jauhkan obat kortikosteroid
“Cuma satu-dua menit saya bicara konflik karena agama, itulah antara lain Ambon-Poso. Saya tidak bicara tentang dogma,” kata JK di Jakarta Selatan, Sabtu, 18 April 2026.
Ia juga menolak tudingan penistaan. Menurutnya, baik Islam maupun Kristen sama-sama tidak mengajarkan kekerasan. “Tidak ada ajaran agama yang membenarkan saling membunuh, itu yang saya sampaikan,” ujarnya.
JK menjelaskan penggunaan istilah syahid dalam ceramahnya hanya menyesuaikan konteks audiens di masjid. Ia bahkan menyamakan maknanya dengan istilah martir dalam tradisi Kristen, yakni mati dalam membela agama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
