Tegas! Di Hadapan Para Pemimpin G7, Jokowi: Saya Meragukan Komitmen Negara Maju

Tegas! Di Hadapan Para Pemimpin G7, Jokowi: Saya Meragukan Komitmen Negara Maju

JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menekankan perlunya tindakan nyata dalam menghadapi perubahan iklim, bukan hanya sekadar retorika. Hal ini ia sampaikan dalam pidatonya di Sesi Kerja Mitra G7 di Hiroshima, Jepang, Presiden Jokowi mendorong negara-negara untuk berkontribusi sesuai dengan kapasitas masing-masing.
 
Presiden Jokowi menganggap pendekatan lama seperti pemindahan beban dan propaganda tidak lagi relevan. Dia menekankan pentingnya tindakan nyata yang konkret untuk menjaga bumi.
 
Jokowi lanjut mengatakan, Indonesia sendiri telah meningkatkan target penurunan emisi sebesar 31,89 persen secara mandiri dan mendapatkan dukungan internasional sebesar 43,2 persen.
 
"(Komitmen) harus diikuti dengan kemitraan yang memberdayakan," tegas Jokowi di hadapan sejumlah pemimpin G7, Sabtu (20/5).
 
Presiden juga menegaskan bahwa dukungan pendanaan iklim bagi negara-negara berkembang harus bersifat konstruktif dan tidak boleh diskriminatif.
 
Menurut Jokowi, pandemi COVID-19 telah memberikan pelajaran kepada dunia tentang pentingnya melibatkan lebih banyak negara dalam rantai pasok global. Ia menekankan perlunya menghentikan kebijakan monopoli.
 
"Kebijakan diskriminatif terhadap komoditas negara berkembang juga harus dihentikan. Rights to development setiap negara harus dihormati," tegasnya.
 
Jokowi menilai saat ini sudah tidak relevan lagi negara-negara seperti Indonesia hanya menjadi pengekspor bahan mentah komoditas.
 
"Apakah adil negara kaya SDA seperti Indonesia dihalangi menikmati nilai tambah SDA-nya? Dihalangi mengolah SDA-nya di dalam negeri?" tegas Jokowi.
 
Ia juga mengatakan bahwa sejumlah negara berkembang masih meragukan komitmen pendanaan dari negara maju sebesar 100 miliar dolar AS per tahun.
 
"Saya harus sampaikan, jujur, negara berkembang ragu terhadap komitmen pendanaan negara maju yang hingga kini komitmen 100 miliar dolar AS per tahun masih belum terpenuhi," katanya.
 
Selain itu, Presiden Jokowi mendorong semua negara untuk mengambil tindakan konkret dalam menghadapi perubahan iklim. Jokowi mengklaim bahwa Indonesia telah melakukan langkah-langkah nyata, seperti penurunan laju deforestasi, rehabilitasi hutan mangrove, rehabilitasi lahan kritis, pengurangan kebakaran hutan, pembangunan kawasan industri hijau, dan pengembangan kendaraan listrik.
 
"Laju deforestasi turun signifikan dan terendah selama 20 tahun terakhir," ujar Jokowi.
 
Jokowi menyatakan bahwa lebih dari 270 juta penduduk Indonesia memiliki peran penting dalam menjaga perdamaian, demokrasi, dan ekonomi di kawasan Asia Tenggara dan Asia Pasifik. Mereka itulah, kata Jokowi, yang juga berhak mendapatkan kesejahteraan.
 
Oleh karena itu, Jokowi mengatakan Indonesia tidak akan mengisolasi diri, melainkan akan bekerja keras dan meningkatkan kerja sama dalam bentuk yang lebih adil dan setara.
 
"Saya berharap negara G7 dapat jadi mitra," katanya.
 
 

Temukan konten Postingnews.Id menarik lainnya di Google News

Sumber: