Tak Punya Gigi Tapi Bisa Makan Banyak, Rahasia Paus Balin Bertahan di Samudra

Tak Punya Gigi Tapi Bisa Makan Banyak, Rahasia Paus Balin Bertahan di Samudra

Tanpa gigi dan tanpa taring, paus balin mampu makan dalam jumlah besar. Begini cara unik mereka menyaring makanan di samudra.-Foto: us.whales.org-

JAKARTA, PostingNews.id — Bayangkan makan tanpa gigi. Tidak ada taring, tidak ada geraham, tidak ada alat pengunyah sama sekali. Bagi sebagian besar makhluk hidup, itu terdengar seperti resep kelaparan. Tapi di lautan, justru ada raksasa-raksasa yang membuktikan sebaliknya. Mereka adalah paus tanpa gigi, mamalia laut yang bisa menyantap makanan dalam jumlah luar biasa besar dengan cara yang nyaris tak masuk akal.

Di dunia cetacea, keluarga besar yang mencakup paus, lumba-lumba, dan pesut, urusan makan bukan perkara sepele. Kelompok ini terbagi dua. Ada paus bergigi dan ada paus balin. Yang satu berburu dengan gigi tajam, yang lain menelan laut.

Paus bergigi seperti paus sperma, paus berparuh, lumba-lumba, dan pesut dikenal lincah dan sosial. Mereka mengejar ikan, cumi-cumi, bahkan anjing laut, lalu mencabik mangsanya dengan berbagai bentuk gigi yang berevolusi khusus. Sementara itu, saudara mereka yang bergigi nol justru memilih jalan berbeda. Paus balin, yang mencakup paus kepala busur, paus bungkuk, paus abu-abu, hingga paus biru, hidup lebih menyendiri dan mengandalkan strategi makan yang sama sekali lain.

Tanpa gigi, paus balin tidak berburu dengan kejar-kejaran. Mereka menyaring.

BACA JUGA:KUHAP Baru Mulai Berlaku, Hinca Panjaitan Janji Tak Ada Lagi Pelanggaran HAM

Di dalam mulut paus balin tidak ada deretan gigi, melainkan barisan lempeng balin yang menggantung dari rahang atas. Balin ini terbuat dari keratin, bahan yang sama dengan kuku dan rambut manusia. Bentuknya menyerupai sisir raksasa. Fungsinya bukan untuk menggigit, melainkan untuk memisahkan yang bisa dimakan dari air laut.

Cara kerjanya sederhana sekaligus jenius. Paus balin menelan air laut dalam jumlah besar bersama makanannya. Setelah itu, air didorong keluar melalui lempeng balin. Air lolos. Mangsa tertahan. Yang tersisa di mulut hanyalah makanan.

Setiap spesies paus balin punya gaya sendiri dalam menjalankan trik ini. Paus kepala busur, misalnya, sering berenang santai di permukaan laut dengan mulut menganga. Air laut mengalir masuk, mangsa terperangkap di balin, dan paus tinggal menutup mulut. Spesies ini memegang rekor mulut terbesar di dunia hewan, dengan lempeng balin yang panjangnya hampir empat meter.

Paus balin lain memilih cara yang lebih agresif. Paus biru, misalnya, akan mencari gerombolan krill, krustasea kecil mirip udang yang hidup berkelompok. Ketika target terkunci, paus biru melesat dan menelan semuanya dalam satu sergapan. Setelah itu, lipatan tenggorokannya mengerut, lidahnya bekerja keras, dan air laut diperas keluar lewat balin. krill tertinggal. Energi masuk.

BACA JUGA:Bongkar Rahasia Dapur Digital Agency: Gimana Caranya Tim Kecil Bisa Handle Ribuan Klien Tanpa Tumbang? Ternyata Pakai 'Mesin'!

“Ini luar biasa dan sebenarnya merupakan salah satu metode makan paling tidak biasa yang pernah dikembangkan oleh hewan vertebrata mana pun. Ini sangat kompleks, tetapi juga sangat menarik,” kata Richard Sabin, Principal Curator of Mammals di Natural History Museum.

Meski terlihat mudah, cara makan ini bukan tanpa risiko. Penyaringan makanan adalah teknik yang harus dikuasai dengan presisi. Salah langkah, energi bisa terbuang percuma. “Ini adalah mekanisme yang sangat hemat energi, tetapi mereka harus melakukannya dengan benar,” kata Richard.

Dari sekitar 90 spesies cetacea yang hidup di lautan dunia, paus balin hanya menyumbang sekitar 15 spesies. Jumlahnya kecil, tapi dampaknya besar. Tanpa teknik menyaring ini, tidak akan ada paus biru dengan ukuran yang menantang imajinasi manusia.

Kisah balin juga membawa kita jauh ke masa lalu. Nenek moyang mamalia laut sebenarnya pernah hidup di darat. Sekitar 50 juta tahun lalu, mereka perlahan kembali ke laut, menyesuaikan tubuh dan kebiasaan hidup dengan dunia baru yang asin dan luas. Dari proses panjang itu, paus balin menemukan ceruk ekologisnya sendiri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share