Tak Punya Gigi Tapi Bisa Makan Banyak, Rahasia Paus Balin Bertahan di Samudra
Tanpa gigi dan tanpa taring, paus balin mampu makan dalam jumlah besar. Begini cara unik mereka menyaring makanan di samudra.-Foto: us.whales.org-
BACA JUGA:KUHAP Baru Berlaku, Eks Jaksa Agung Marzuki Darusman Bunyikan Alarm Otoritarianisme
Para peneliti meyakini metode penyaringan makanan muncul sebagai jawaban atas meningkatnya produktivitas laut. Ketika biomassa organisme laut melimpah, strategi paling masuk akal bukan lagi berburu satu per satu, melainkan menyaring sebanyak mungkin sekaligus.
Masalahnya, balin jarang meninggalkan jejak fosil. Keratin tidak mudah membatu. Fosil balin sejati tertua yang pernah ditemukan berusia sekitar 15 juta tahun. Namun perubahan pada tengkorak paus yang berkaitan dengan sistem balin ditemukan jauh lebih tua, menandakan evolusi ini berlangsung bertahap.
Beberapa fosil bahkan menunjukkan paus dengan dua sistem sekaligus, gigi dan balin, seolah berada di tengah persimpangan evolusi. Bukti lain datang dari rahim. Studi menunjukkan embrio paus balin awalnya membentuk gigi, lalu menyerapnya kembali sebelum lahir. Evolusi itu terekam di tubuh mereka sendiri.
Hasil akhirnya adalah mesin makan yang efisien. Dengan balin, paus balin bisa mengonsumsi krill dalam jumlah besar dengan usaha minimal. Energi yang masuk jauh lebih besar daripada energi yang dikeluarkan. Itulah kunci mengapa paus biru bisa tumbuh menjadi hewan terbesar yang pernah hidup di Bumi.
BACA JUGA:Cak Imin Buka Kartu, PKB Dukung Pilkada via DPRD karena yang Langsung Mahal dan Rawan Curang
Balin bukan sekadar alat makan. Ia juga menyimpan cerita. Lapisan-lapisan balin dapat merekam informasi tentang kebiasaan makan paus, perubahan lingkungan, bahkan kondisi laut di masa lalu. Di balik bentuknya yang sederhana, balin adalah arsip hidup tentang relasi antara raksasa laut dan samudra yang memberinya makan.
Di dunia yang sering mengukur kekuatan lewat taring dan cakar, paus balin menunjukkan bahwa bertahan hidup tidak selalu soal menggigit lebih keras. Kadang, kunci kejayaan justru ada pada kemampuan menyaring, memilih, dan memanfaatkan kelimpahan dengan cara paling efisien.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News