Banner Internal

Rupiah Diguncang Pasar Global, BI Santai Pegang Rp2.463 Triliun, Perry Bilang Amunisi Masih Tebal

Rupiah Diguncang Pasar Global, BI Santai Pegang Rp2.463 Triliun, Perry Bilang Amunisi Masih Tebal

Cadangan devisa Indonesia turun jadi Rp2.463 triliun, namun BI memastikan amunisi masih cukup untuk menjaga stabilitas rupiah.-Foto: Antara-

JAKARTA, PostingNews.id — Di tengah gejolak pasar keuangan global yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, Bank Indonesia memastikan masih memiliki “peluru” yang cukup untuk menjaga rupiah agar tidak terperosok lebih dalam.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan cadangan devisa Indonesia saat ini masih berada pada level yang sangat memadai untuk mendukung langkah intervensi di pasar valuta asing. Menurut dia, bank sentral memiliki ukuran tersendiri untuk menentukan apakah cadangan devisa masih cukup atau tidak.

“Ada indikator yang dikeluarkan IMF, yang disebut adequacy reserve asset, kami ukur itu. Itu adalah berapa cadangan devisa untuk bisa meng-cover pelemahan rupiah yang dalam,” kata Perry di Gedung DPR, Selasa, 9 Juni 2026.

Perry menjelaskan, berdasarkan pengukuran tersebut, tingkat kecukupan cadangan devisa Indonesia saat ini berada di atas 115 persen. Angka itu dinilai lebih dari cukup untuk menopang kebijakan stabilisasi nilai tukar apabila tekanan terhadap rupiah kembali meningkat.

Karena itu, ia meminta masyarakat tidak terlalu khawatir terhadap kemampuan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas kurs di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Selain untuk intervensi pasar, cadangan devisa yang dimiliki Indonesia juga masih mampu membiayai kebutuhan impor nasional selama enam bulan. Kondisi itu menjadi salah satu alasan mengapa bank sentral menilai posisi eksternal Indonesia masih relatif aman.

BACA JUGA:Tecno Pova 8 5G Siap Rilis Tanggal Segini! Intip Bocoran Spesifikasi Terbarunya Sekarang

Meski demikian, data terbaru menunjukkan jumlah cadangan devisa mengalami penyusutan. Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2026 sebesar USD144,9 miliar atau sekitar Rp2.463 triliun dengan kurs Rp17.000 per dolar AS. Angka tersebut turun USD1,3 miliar atau sekitar Rp22,1 triliun dibanding posisi akhir April yang mencapai USD146,2 miliar atau setara Rp2.485 triliun.

Penurunan itu terjadi ketika pemerintah melakukan penerbitan global bond dan di saat bersamaan harus memenuhi kewajiban pembayaran utang luar negeri. Bank Indonesia juga aktif melakukan stabilisasi rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.

“Perkembangan cadangan devisa Mei 2026 ini dipengaruhi penerbitan global bond pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah Bank Indonesia sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global dan permintaan valuta asing musiman dari domestik,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan tertulis, Senin, 8 Juni 2026.

Denny menegaskan posisi cadangan devisa Indonesia secara keseluruhan masih tergolong kuat. Menurutnya, jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Angka itu jauh di atas standar kecukupan internasional yang umumnya berada pada level sekitar tiga bulan impor.

BACA JUGA:Janji Dewan Buruh Hilang Ditelan Angin, Prabowo Ganti dengan Satu Penasihat

Dengan kata lain, meski cadangan devisa mulai tergerus dan rupiah terus menghadapi tekanan dari luar negeri, Bank Indonesia masih percaya diri. Setidaknya untuk saat ini, benteng pertahanan devisa Indonesia masih cukup tebal untuk menahan guncangan pasar global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share
Seedbacklink affiliate

Berita Terkait