Gubernur BI Blak-blakan, 3 Ancaman Ekonomi Mengintai Akibat Perang Global
Gubernur BI ungkap 3 ancaman ekonomi RI akibat perang global, dari kepercayaan bisnis, investasi hingga tekanan minyak dan arus modal-Foto: Antara-
JAKARTA, PostingNews.id – Dunia lagi tidak baik-baik saja. Kalimat itu bukan sekadar retorika, tapi sinyal keras dari Gubernur yang melihat tekanan global makin brutal, terutama imbas perang di Timur Tengah.
Di tengah harga minyak yang melonjak dan ketidakpastian yang makin liar, Bank Indonesia mulai pasang alarm. Perry memetakan tiga pekerjaan rumah besar yang harus segera dibereskan Indonesia kalau tidak mau ikut terseret krisis.
“Tantangan pertama adalah membangkitkan kepercayaan pelaku usaha serta mempertemukan dan mengusahakan pembiayaan kepada proyek-proyek prioritas nasional untuk mewujudkan stabilitas yang dinamis dan juga pertumbuhan ekonomi yang tinggi,” ujar Perry di Jakarta, Senin, 27 April 2026.
Pesan ini jelas. Dunia usaha mulai ragu, dan kalau kepercayaan ambruk, investasi bisa ikut berhenti. Di titik ini, pemerintah dan perbankan diminta tidak cuma jadi penonton.
Tantangan berikutnya lebih dalam. Mesin ekonomi dalam negeri harus tetap hidup, terutama konsumsi dan investasi. Kalau dua ini melemah, program prioritas pemerintah bisa mandek di tengah jalan.
BACA JUGA:Lagi-lagi Magang Nasional, Janji Manis Upah UMP atau Sekadar Tambal Pengangguran?
Perry menegaskan pentingnya menjaga daya beli sekaligus memastikan investasi terus mengalir. Tanpa itu, pertumbuhan ekonomi hanya jadi angka di atas kertas.
Tantangan terakhir justru yang paling sering jadi lubang. Kebijakan yang sudah disusun rapi sering kali mandek di implementasi. Perry menekankan bahwa aturan tidak boleh berhenti di meja rapat, tapi harus benar-benar jalan di dunia usaha dan perbankan.
Ia juga mendorong penguatan kerangka kebijakan, termasuk hilirisasi dan pengembangan industri agar pertumbuhan ekonomi tidak cuma bergantung pada faktor eksternal.
Di sisi lain, tekanan global makin nyata. Indonesia tidak hanya menghadapi perlambatan ekonomi, tapi juga ketidakpastian yang terus berlanjut. Salah satu sumber tekanan datang dari kebijakan tarif tinggi Amerika Serikat.
BACA JUGA:Kursi Menteri Jadi Jatah Buruh, Jumhur Ngaku Siap Dilantik
“Demikian juga ada modal keluar dan juga tekanan-tekanan bagi ekonomi kita,” kata Perry.
Efeknya mulai terasa. Arus modal berpotensi keluar, nilai tukar bisa tertekan, dan stabilitas ekonomi ikut goyah.
Sementara itu, harga minyak dunia ikut memperkeruh keadaan. Berdasarkan data Trading Economics, harga minyak mentah Brent sudah menembus USD107 (Rp1.819.000) per barel pada awal pekan ini. Kenaikan ini dipicu gangguan pasokan global, termasuk penutupan Selat Hormuz di tengah macetnya pembicaraan damai.
Lonjakan ini bukan kabar baik bagi negara importir seperti Indonesia. Biaya energi naik, tekanan inflasi menguat, dan ruang fiskal makin sempit.
Di tengah badai ini, pesan Bank Indonesia sebenarnya sederhana tapi berat dijalankan. Jaga kepercayaan, dorong konsumsi, dan pastikan kebijakan benar-benar jalan.
Kalau tidak, Indonesia bukan cuma ikut goyang, tapi bisa terseret lebih dalam dari yang diperkirakan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News