Banner Internal

Istana Diseret ke Kasus KM 50, Dudung vs Rizieq Kembali Bikin Gaduh

Istana Diseret ke Kasus KM 50, Dudung vs Rizieq Kembali Bikin Gaduh

Polemik Dudung dan Rizieq memanas, isu Yaman hingga KM 50 diseret, Istana kembali jadi pusat kontroversi publik.-Foto: Istimewa-

JAKARTA, PostingNews.id — Keributan lama yang tak pernah benar-benar dingin kembali dipanasin. Kali ini, bukan soal kebijakan atau ekonomi, tapi soal siapa yang bisikin presiden dan siapa yang merasa paling tahu isi kepala kekuasaan.

Dudung Abdurrachman mendadak naik pitam menanggapi kritik dari Rizieq Shihab. Bukan bantahan panjang lebar, Dudung justru memilih jalur singkat, padat, dan cenderung nyelekit.

“Kok masih ada yang mau memviralkan ocehan dia memangnya dia siapa ucapannya tidak usah didengerin apalagi kelakuannya,” ujar Dudung saat dihubungi, Senin 4 Mei 2026.

Kalimatnya bukan sekadar respons, tapi semacam pesan bahwa kritik Rizieq dianggap tak layak masuk radar serius Istana.

Masalahnya bermula dari pidato Presiden Prabowo Subianto yang sempat menyinggung Yaman saat merespons narasi Indonesia gelap dan isu orang-orang yang ingin kabur dari negeri sendiri. Buat sebagian orang, itu cuma slip of tongue. Buat Rizieq, itu tanda ada yang membisikkan sesuatu.

BACA JUGA:Kementerian Dikasih Kartu Kuning, Mahasiswa Ngamuk, Wamen Diteriaki Pembohong di Tengah Hujan

Lewat kanal YouTube, Rizieq mengaitkan ucapan Yaman itu dengan orang dalam lingkaran kekuasaan. Ia bahkan menyebut sosok yang ia juluki Jenderal Baliho sebagai pihak yang diduga punya pengaruh.

“Pantes saja presiden bilang pergi sono ke Yaman karena Jenderal Baliho ini memang benci Yaman. Jadi begitu ngomong ingat tuh sudah kedoktrin ngobrol istana sama orang yang anti Yaman,” kata Rizieq.

Narasi yang dibangun Rizieq sederhana tapi provokatif. Presiden dianggap tak sepenuhnya spontan, melainkan hasil bisikan orang sekitar. Dan dalam ceritanya, Dudung disebut sebagai tokoh kunci.

Belum cukup sampai situ, Rizieq juga menyeret kembali peristiwa KM 50 yang sudah lama jadi bahan perdebatan publik. Ia mengklaim ada indikasi keterlibatan Dudung dalam pusaran kasus tersebut, meski tanpa membeberkan detail baru.

“Ini orang bermasalah dalam KM 50, dalam urusan adu domba anak bangsa, dalam urusan menghina para habaib. Saudara, kenapa diangkat jadi penasihat presiden?” ujarnya.

Di titik ini, polemiknya bukan lagi soal Yaman, tapi soal legitimasi dan siapa yang pantas duduk di lingkaran dekat presiden.

BACA JUGA:Pemerintah Bilang Tak Ada yang Berhak Ngaku-ngaku Aktivis HAM, Tapi Diam-Diam Mau Bikin Standar Sendiri

Kalau ditarik sedikit mundur, yang terjadi ini sebenarnya klasik. Kritik dibalas dengan delegitimasi. Tuduhan dibalas dengan pengabaian. Sementara publik kebagian tontonan, siapa yang paling keras, siapa yang paling tahan banting.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share