Banner Internal

Kementerian Dikasih Kartu Kuning, Mahasiswa Ngamuk, Wamen Diteriaki Pembohong di Tengah Hujan

Kementerian Dikasih Kartu Kuning, Mahasiswa Ngamuk, Wamen Diteriaki Pembohong di Tengah Hujan

Mahasiswa beri kartu kuning ke Wamen pendidikan, kritik program seremonial hingga anggaran, audiensi ricuh di tengah hujan.-Foto: Kompas.-

JAKARTA, PostingNews.id — Sore itu, Senin 4 Mei 2026, depan kantor kementerian pendidikan berubah jadi panggung kecil penuh emosi. Bukan konser, bukan pula seremoni. Ini aksi mahasiswa yang datang bukan buat basa-basi.

Perwakilan Aliansi BEM SI Kerakyatan maju ke depan. Tanpa banyak pembukaan, mereka langsung mengeluarkan kartu kuning dan menunjukkannya ke Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Fauzan. Momen itu langsung disambut sorakan ratusan mahasiswa lain.

Kartu kuning ini bukan gimmick. Ini simbol. Dan pesannya cukup jelas. Kinerja dua kementerian pendidikan dianggap bermasalah dan makin jauh dari realita di lapangan.

“Kami dari BEM Se-Kerakyatan Indonesia memberikan kartu kuning sebagai warning bagi Kemendiktisaintek dan juga Kemendikdasmen yang programnya tidak pernah menyentuh akar masalah daripada pendidikan,” ujar seorang mahasiswa Universitas Indonesia sambil mengacungkan kartu itu.

BACA JUGA:Dapur MBG Disulap Jadi Drama Duit, Dosen UGM Dilaporkan Investor yang Ngaku Ditinggal Setelah Modal Rp2 Miliar

Nada kritiknya nggak tanggung-tanggung. Mahasiswa menilai kementerian pendidikan punya “dosa besar”. Program banyak, tapi hasilnya nihil. Yang ada justru kesan sibuk di permukaan, kosong di substansi.

Salah satu yang disorot adalah pola pendekatan kementerian ke mahasiswa. Bukan dialog serius, tapi lebih mirip agenda formalitas.

“Kemendiktisaintek hanya menjalankan kerja-kerja seremonial, mengumpulkan seluruh presma untuk mengadakan FGD di hotel-hotel mewah. Itu tidak baik, bapak!” kata seorang mahasiswa.

Audiensi berjalan sekitar 40 menit. Tapi suasananya jauh dari tenang. Adu argumen terjadi di tengah hujan yang nggak juga reda di kawasan FX Sudirman. Air turun dari langit, emosi naik dari bawah.

Mahasiswa lain ikut angkat suara. Isunya makin melebar. Dari anggaran pendidikan sampai arah kebijakan.

BACA JUGA:Prabowo Ngamuk Soal Lintah Ekonomi, Rakyat Dibilang Dihisap, Pangan Dijadikan Medan Perang Diam-Diam

Mereka mempersoalkan penggunaan 20 persen anggaran pendidikan yang sebagian dialihkan ke program makan bergizi gratis. Bagi mereka, ini bukan solusi utama. Bahkan dianggap melenceng dari kebutuhan pendidikan itu sendiri.

Selain itu, muncul juga keresahan soal wacana penutupan sejumlah program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan kerja.

Ketua BEM UI Yatalathof Ma’shum Imawan menegaskan masalahnya bukan di jurusan. “Yang salah bukan prodi, yang salah pemerintah karena tidak bisa menyesuaikan kebutuhan lapangan kerja,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share