Di Balik Fasilitas Guru Sekolah Garuda, Ada Tuntutan Kerja Nyaris Seharian

Di Balik Fasilitas Guru Sekolah Garuda, Ada Tuntutan Kerja Nyaris Seharian

Kemendiktisaintek menegaskan hunian guru Sekolah Garuda bukan privilege, tetapi konsekuensi sistem asrama dengan beban kerja hampir 24 jam.-Foto: Antara-

JAKARTA, PostingNews.id — Polemik soal penyediaan hunian bagi guru di SMA Unggul Garuda Baru sampai ke meja Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Fasilitas itu dinilai sebagian kalangan berpotensi menciptakan jarak dengan guru sekolah lain yang masih berkutat dengan persoalan kesejahteraan. Pemerintah memilih menjawab dengan nada lebih teknokratis, seraya menekankan bahwa kebijakan tersebut merupakan konsekuensi dari model pendidikan berasrama.

Direktur Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif Kemendiktisaintek Ardi Findyartini mengatakan tempat tinggal di dalam kompleks sekolah bukan bentuk keistimewaan. Ia menyebut hunian itu sebagai kebutuhan dasar agar guru dapat menjalankan peran yang berbeda dibandingkan pendidik di sekolah reguler.

“Bukan untuk bermewah-mewah, tetapi memang memenuhi kebutuhan dasar tempat tinggal bagi guru dan tenaga kependidikan,” kata Ardi yang akrab disapa Titin kepada wartawan di kantor Kemendiktisaintek di Jakarta Selatan, Rabu, 18 Februari 2026.

Peran Guru Hampir Seharian Penuh

Menurut Titin, sistem pendidikan berasrama membuat batas antara jam mengajar dan pembinaan menjadi kabur. Guru tidak hanya hadir di ruang kelas saat pelajaran formal, tetapi juga mendampingi kegiatan kokurikuler, ekstrakurikuler, hingga kehidupan siswa di asrama.

Peran itu membuat jam kerja berlangsung hampir sepanjang hari. Dalam kondisi seperti itu, hunian di dalam lingkungan sekolah dinilai bukan fasilitas tambahan, melainkan bagian dari sistem kerja yang melekat pada desain pendidikan.

BACA JUGA:Empat Sekolah Garuda Dibidik Beroperasi Juni 2026, Seleksi Siswa dan Guru Dikebut

Ia menjelaskan bahwa pemerintah menetapkan standar kompetensi dan kualifikasi yang tinggi bagi guru sekolah Garuda. Beban tanggung jawab yang besar diharapkan diimbangi dengan dukungan fasilitas yang memadai agar proses pembinaan berjalan optimal.

Titin menolak anggapan bahwa kebijakan tersebut akan menciptakan kesenjangan dengan guru sekolah lain. Ia mengingatkan bahwa pola guru tinggal di lingkungan asrama bukan hal baru dalam dunia pendidikan Indonesia. Sejumlah sekolah unggulan berasrama telah lama menerapkan sistem serupa.

“Memang tuntutan pekerjaannya seperti itu,” ujarnya.

Dalam model tersebut, guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pembina karakter yang terlibat dalam kehidupan sehari-hari siswa. Interaksi yang lebih intens dinilai menjadi bagian penting dari pembentukan lingkungan belajar yang dirancang pemerintah.

BACA JUGA:Tukar Uang Baru Lebaran 2026 Kini Wajib Daftar Online, Simak Jadwal dan Caranya

Sekolah Garuda sendiri dirancang sebagai sekolah unggulan berbasis sains dan teknologi dengan sistem berasrama. Konsep ini, menurut pemerintah, memerlukan dukungan fasilitas yang berbeda dibandingkan sekolah reguler.

Namun perdebatan tetap muncul. Di tengah kondisi mayoritas guru yang masih menghadapi persoalan distribusi dan kesejahteraan, penyediaan hunian khusus bagi sebagian tenaga pendidik memunculkan pertanyaan soal keadilan kebijakan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share