Longsor dan Doa di Tengah Gelap, Kisah Ahmad dari Pasirlangu
Longsor Pasirkuning, Cisarua.--Foto: Istimewa.
JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Longsor yang datang menjelang pagi mengubah kawasan itu menjadi lanskap sunyi. Rumah yang dulu ramai kini hanya menyisakan jejak kehancuran. Bencana itu terjadi pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026, di Kampung Pasirkuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Wilayah di kaki Gunung Burangrang itu mendadak menjadi ruang duka.
Detik-detik Saat Tanah Bergerak
Ahmad Rohimat terbangun bukan karena mimpi buruk. Suara keras seperti ledakan membuat tubuhnya terhentak. Lantai seolah runtuh dari bawah. Dalam waktu singkat, rumah yang ia tempati bersama istri, dua anak, dan ayahnya tak lagi berbentuk.
Tanah dan bangunan bercampur. Udara pengap. Gelap menyelimuti. Ahmad termasuk orang yang selamat. Banyak yang tidak seberuntung itu.
“Waktu saya sadar, rumah sudah roboh. Lumpur sudah masuk semua,” ujarnya lirih saat berdiri di dekat sisa kendaraan yang kini hanya tumpukan besi, Sabtu 31 Januari 2026.
Tubuhnya sempat terkubur. Separuh badannya terhimpit tanah. Nafas terasa pendek. Dalam kondisi itu, nalurinya bekerja lebih cepat dari rasa takut.
BACA JUGA:Bawang Putih hingga Jeruk, Bahan Dapur Ini Ampuh Usir Hama Tanaman
Ia meraba sekeliling. Bukan untuk menyelamatkan diri, tetapi mencari keluarganya.
Ayahnya ditemukan lebih dulu. Separuh tubuh lelaki itu terperangkap lumpur. Tanpa alat, Ahmad menariknya keluar perlahan. Setelah itu, ia memastikan istri dan kedua anaknya selamat.
“Saya seorang diri menyelamatkan Bapak. Alhamdulillah, keluarga saya selamat,” katanya.
Nada suaranya tenang, meski cerita di baliknya menyimpan ketegangan panjang.
Angka yang Menyimpan Wajah
Ahmad adalah satu dari 78 orang yang berhasil selamat. Hingga hari ketujuh pencarian, tim SAR mengevakuasi sekitar 60 kantong jenazah. Sekitar 80 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
BACA JUGA:Di Rakernas PSI, Jokowi Nyatakan Siap Bekerja Habis-habisan
Bagi Ahmad, angka itu bukan sekadar data. Setiap nama adalah tetangga, kawan, orang yang biasa ia sapa setiap hari.
Pagi setelah longsor, ia menyadari kehilangan lain. Empat mobil yang biasa ia gunakan untuk mengangkut hasil pertanian tertimbun lumpur. Dari kendaraan itulah ia memperoleh penghasilan harian sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News