Longsor dan Doa di Tengah Gelap, Kisah Ahmad dari Pasirlangu
Longsor Pasirkuning, Cisarua.--Foto: Istimewa.
Kini semuanya hilang. Lahan sayuran yang ia kelola bertahun-tahun juga lenyap. Tanah hijau berubah menjadi hamparan cokelat pekat. Diam. Tak bergerak.
Selamat di Tengah Petaka
Ada satu kisah yang terus ia ingat. Malam sebelum longsor, empat anggota Marinir bermalam di rumahnya. Mereka tengah menjalani tugas di kawasan tersebut.
“Empat orang marinir menginap di rumah saya. Alhamdulillah semua selamat,” ujarnya.
BACA JUGA:Bermain Petak Umpet, Bocah di Demak Tewas Tersengat Listrik di Garasi Truk
Keempatnya termasuk yang beruntung. Di lokasi lain, 23 anggota Marinir dilaporkan hilang terseret longsor.
Saat ini Ahmad dan keluarganya mengungsi di rumah kerabat. Blok tempat tinggalnya menjadi salah satu yang paling parah terdampak. Sekitar 22 rumah di sekitarnya tertimbun tanah. Data sementara mencatat sedikitnya 48 rumah rusak akibat bencana.
“Di blok ini sekitar 60 orang. Semua saya kenal,” katanya pelan.
Menunggu Kepastian
Pemerintah Provinsi Jawa Barat menjanjikan bantuan dana tunggu hunian sebesar Rp10 juta bagi warga terdampak. Bantuan itu ditujukan untuk biaya sewa rumah sebelum proses relokasi.
Nama Ahmad sudah masuk dalam pendataan. Namun hingga kini, dana tersebut belum ia terima.
BACA JUGA:IHSG Ambruk hingga Trading Halt, Menkeu Tegaskan Ini Bukan Krisis
“Yang lain sudah dapat. Saya belum. Jadi sementara tinggal di rumah saudara,” ucapnya.
Di tengah puing dan lumpur yang menghapus masa lalunya, Ahmad memilih bertahan. Tidak dengan amarah. Tidak dengan ratapan.
Baginya, selama keluarga masih lengkap, hidup masih bisa dimulai ulang.
Di Pasirlangu, tanah memang runtuh. Namun pada pagi yang gelap itu, keteguhan seorang ayah justru berdiri paling kukuh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News