Gigitan Anjing Rabies Tewaskan 16 Warga Bali, Mayoritas Tak Dapat Penanganan Medis

Gigitan Anjing Rabies Tewaskan 16 Warga Bali, Mayoritas Tak Dapat Penanganan Medis

Gigitan anjing rabies menewaskan belasan warga Bali sepanjang 2025.--Foto: Halodoc

JAKARTA, PostingNews.id - Kematian akibat rabies masih menjadi persoalan kesehatan publik di Bali sepanjang 2025. Dalam kurun satu tahun, 16 orang dilaporkan meninggal dunia setelah digigit hewan penular rabies.

Parahnya, seluruh korban tercatat tidak pernah mendatangi fasilitas layanan kesehatan setelah mengalami gigitan anjing rabies.

Dinas Kesehatan Bali menilai absennya penanganan medis sejak awal menjadi faktor utama tingginya angka kematian tersebut. Tanpa pemeriksaan tenaga kesehatan, para korban tidak memperoleh perawatan luka maupun vaksin anti-rabies yang berperan penting mencegah infeksi berkembang menjadi fatal.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Bali, I Gusti Ayu Raka Susanti, mengatakan hampir seluruh korban meninggal tidak menjalani prosedur medis apa pun setelah digigit. Kondisi ini masih menjadi tantangan besar dalam pengendalian rabies di Bali.

“Bisa dibilang 99 persen yang meninggal tidak pergi ke pelayanan kesehatan, sehingga tidak mendapatkan tata laksana luka maupun vaksinasi, itu yang memang masih menjadi tantangan kami,” kata Raka Susanti di Denpasar pada Jumat, 09 Januari 2026.

Sebaran kasus kematian akibat rabies terjadi di sejumlah wilayah. Kabupaten Badung mencatat jumlah tertinggi dengan empat korban meninggal. Karangasem, Buleleng, dan Jembrana masing-masing melaporkan tiga kasus. Sementara itu, satu korban tercatat di Tabanan, Gianyar, dan Bangli.

BACA JUGA:Tak Perlu KTP Pemilik Lama, Ini Tips Balik Nama Kendaraan Bekas

Jumlah kematian tahun ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024, korban meninggal akibat gigitan hewan penular rabies tercatat sebanyak tujuh orang. Lonjakan ini menjadi perhatian Dinas Kesehatan Bali di tengah upaya pengendalian rabies yang terus dilakukan.

Di luar kasus kematian, angka gigitan hewan penular rabies sepanjang 2025 terbilang tinggi. Dinas Kesehatan Bali mencatat sebanyak 66.760 orang mengalami gigitan. Dari jumlah tersebut, 47.887 orang telah menerima vaksin anti-rabies sebagai langkah pencegahan.

Raka Susanti menjelaskan pemberian vaksin tidak dilakukan secara otomatis kepada seluruh korban gigitan. Keputusan vaksinasi ditentukan berdasarkan hasil penilaian medis, termasuk jenis luka, lokasi gigitan, serta riwayat dan kondisi hewan yang menggigit.

Ia menekankan bahwa tidak diberikannya vaksin bukan berarti korban mengabaikan penanganan. Sebagian korban melakukan pertolongan pertama secara mandiri dengan membersihkan luka, sementara lainnya langsung melaporkan kejadian ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan evaluasi tenaga medis.

“Rata-rata yang meninggal di tahun-tahun sebelumnya juga tidak ke fasilitas kesehatan, tapi kalau dibilang penurunan kesadaran masyarakat, kami selalu mengupayakan sampai di tingkat puskesmas memberikan edukasi ke masyarakat, kami juga sudah berulang kali bahas rabies ini,” kata dia.

BACA JUGA:Dulu Pede Bilang 'Tidak Ada Perempuan Baik-Baik yang Mau Sama Suami Orang, Inara Rusli Kini Menyesal

Menurut Dinas Kesehatan Bali, edukasi kepada masyarakat terus dilakukan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap rabies. Sosialisasi dilakukan hingga tingkat puskesmas agar masyarakat memahami pentingnya penanganan cepat setelah gigitan terjadi.

Raka Susanti mengingatkan masyarakat agar tidak menunda pertolongan medis. Setiap gigitan hewan penular rabies perlu ditangani dengan langkah awal yang benar, yakni mencuci luka menggunakan sabun dan air mengalir selama 15 menit.

Setelah pembersihan luka, korban diimbau segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat. Pemeriksaan oleh dokter atau tenaga kesehatan diperlukan untuk menentukan apakah korban memerlukan vaksinasi maupun tindakan lanjutan lainnya.

Ia memastikan ketersediaan vaksin anti-rabies di Bali dalam kondisi mencukupi. Apabila hasil analisis medis menyatakan vaksin diperlukan, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan stok.

“Stok vaksin aman, kita di Bali jumlahnya sangat cukup, untuk keseluruhan stok, termasuk kabupaten-kota dan provinsi itu 88.599 vial,” kata Raka Susanti.

 

Dengan stok vaksin yang melimpah, Dinas Kesehatan Bali menegaskan bahwa kunci pencegahan kematian akibat rabies bukan terletak pada keterbatasan fasilitas, melainkan pada kesadaran masyarakat untuk segera mencari pertolongan medis setelah mengalami gigitan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share

Berita Terkait