Di Tengah Ancaman Militer, Trump Bingung Iran Belum Juga Menyerah

Di Tengah Ancaman Militer, Trump Bingung Iran Belum Juga Menyerah

-Foto: BBC.-

JAKARTA, POSTINGNEWS.ID - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, disebut mempertanyakan sikap Iran yang belum menunjukkan tanda menyerah, meski Washington telah meningkatkan kehadiran militernya secara signifikan di kawasan Timur Tengah. Langkah militer besar-besaran itu dilakukan di tengah upaya diplomasi intensif antara kedua negara yang masih berlangsung.

Pernyataan mengenai sikap Trump disampaikan utusan khusus Amerika Serikat, Steve Witkoff, ketika pembicaraan lanjutan antara Washington dan Teheran digelar di Jenewa, Swiss.

Perundingan tersebut dipandang sebagai kesempatan terakhir untuk meredakan ketegangan dan mencegah konflik militer terbuka di kawasan yang sejak lama menjadi titik panas geopolitik dunia.

Amerika Serikat sebelumnya mengirimkan dua kapal induk, pesawat tempur generasi terbaru, serta berbagai sistem persenjataan berat ke wilayah Timur Tengah. Pengerahan kekuatan itu dimaksudkan sebagai sinyal tekanan sekaligus peringatan keras bagi pemerintah Iran agar segera mencapai kesepakatan.

Sikap Iran Dipertanyakan

Dalam wawancara bersama Fox News yang dipandu Lara Trump, Witkoff mengungkapkan bahwa Presiden AS terus mengikuti perkembangan posisi Iran setelah sebelumnya melontarkan ancaman konsekuensi serius apabila negosiasi gagal menghasilkan kesepakatan.

BACA JUGA:Sugiono Luruskan Peran Pasukan RI di Gaza, Hanya Bertahan Jika Diserang

"Saya tidak ingin menggunakan kata frustrasi, karena Trump mengerti bahwa ia memiliki banyak alternatif," ujar Witkoff, sebagaimana dikutip AFP, Minggu 22 Februari 2026.

"Tetapi dia penasaran mengapa mereka belum menyerah. Mengapa, di bawah tekanan ini, dengan jumlah kekuatan laut dan angkatan laut yang ada di sana, mengapa mereka tidak datang kepada kita dan berkata, 'Kami menyatakan tidak menginginkan senjata, jadi inilah yang siap kami lakukan'?" sambungnya.

Meski demikian, Witkoff mengakui bahwa memaksa Iran mencapai titik menyerah bukan perkara sederhana. Menurut dia, dinamika politik internal Iran serta posisi strategis negara tersebut membuat pendekatan tekanan militer tidak serta-merta menghasilkan perubahan sikap cepat.

Pertemuan dengan Reza Pahlavi

Dalam kesempatan yang sama, Witkoff juga mengungkapkan dirinya sempat bertemu Reza Pahlavi, putra shah terakhir Iran yang kini hidup di pengasingan. Pertemuan tersebut, kata dia, berlangsung atas arahan langsung Presiden Trump.

"Saya bertemu dengannya atas arahan presiden," kata Witkoff, tanpa menjelaskan lebih jauh isi pembicaraan.

"Saya pikir dia kuat untuk negaranya, peduli pada negaranya. Tapi ini akan berkaitan dengan kebijakan Presiden Trump," lanjutnya.

BACA JUGA:Kirim 8 Ribu Prajurit ke Gaza, Indonesia Dapat Kursi Wakil Komandan ISF

Reza Pahlavi yang bermukim di Amerika Serikat sebelumnya menyampaikan pernyataan di Munich bahwa dirinya siap mengambil peran dalam membawa Iran menuju sistem demokrasi sekuler di masa depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share

Berita Terkait