Aurelie Moeremans Akhirnya Berani Jujur, Ungkap Masa Lalu Pilu Dipaksa Menikah Umur 18 Tahun
Aurelie Moeremans.--Foto: Instagram Aurelie Moeremans.
JAKARTA, PostingNews.id - Aurelie Moeremans selama ini dikenal sebagai figur publik dengan citra cerah. Ia hadir di layar kaca lewat peran-peran yang lekat dengan senyum dan suara lembut.
Popularitas itu membangun kesan kehidupan yang berjalan mulus. Namun di balik pencapaian tersebut, Aurelie menyimpan pengalaman panjang yang sarat luka psikologis.
Pengalaman itu akhirnya ia buka ke ruang publik melalui sebuah buku berjudul Broken Strings. Di usia 32 tahun, Aurelie memilih tidak lagi menyimpan kisahnya dalam diam.
Buku tersebut menjadi medium baginya untuk menelusuri ulang perjalanan hidup yang membentuk dirinya, termasuk fase-fase yang selama bertahun-tahun berusaha ia singkirkan dari ingatan.
"Namaku Aurelie, dan ini adalah kisahku. Ikuti aku kembali ke tempat dan waktu yang membentuk diriku, bahkan ke momen-momen yang dulu sempat ingin kulupakan," tulis Aurelie dalam Broken Strings, dikutip Sabtu, 10 Januari 2026.
BACA JUGA:Dugaan Perzinaan Inara Rusli dan Insanul Fahmi Naik Penyidikan, Polisi Jadwalkan Gelar Perkara
Buku ini dibagikan secara gratis melalui tautan di akun Instagram pribadinya. Keputusan itu memperlihatkan bahwa Broken Strings tidak ditujukan sebagai karya komersial semata. Aurelie menempatkannya sebagai catatan pemulihan sekaligus sarana edukasi publik tentang praktik grooming dan manipulasi emosional yang kerap tersembunyi dalam relasi personal.
Jejak Masa Lalu yang Membentuk Luka
Dalam bagian awal buku, Aurelie mengajak pembaca kembali ke masa remajanya. Saat berusia 15 tahun, ia berkenalan dengan seorang pria yang dalam buku tersebut disamarkan dengan nama Bobby. Pria itu berusia 29 tahun ketika pertemuan pertama mereka terjadi di lokasi syuting iklan.
Relasi yang bermula dari pertemuan profesional itu perlahan berubah menjadi hubungan yang tidak setara. Aurelie menggambarkan proses grooming berlangsung bertahap.
Kedekatan emosional dibangun, lalu diikuti upaya menjauhkan dirinya dari lingkungan sekitar. Kontrol muncul secara perlahan, mulai dari pengaturan cara berpakaian hingga pembatasan komunikasi dengan keluarga dan teman.
Narasi yang disusun Aurelie menunjukkan bagaimana manipulasi emosional kerap bekerja tanpa disadari korban. Ketergantungan dibangun sedikit demi sedikit, hingga ruang untuk mengambil keputusan sendiri semakin menyempit.
BACA JUGA:Modus Adly Fairuz Menyamar Jadi Perwira Tinggi Polri, Raup Rp3,65 Miliar dari Korban
Tekanan tersebut mencapai puncaknya ketika ia menginjak usia 18 tahun. Dalam salah satu bab berjudul Gereja di Waktu Fajar, Aurelie mengaku dipaksa menandatangani dokumen pernikahan di bawah ancaman serius.
Ancaman itu tidak hanya berupa penyebaran foto-foto pribadi yang diambil secara paksa, tetapi juga menyasar keselamatan orang tua Aurelie.
Pernikahan tersebut dilakukan secara diam-diam pada waktu subuh. Aurelie mencatat bahwa ia tidak mengenal para saksi yang hadir dalam prosesi itu. Peristiwa tersebut menjadi salah satu pengalaman paling traumatis yang membekas dalam hidupnya.
Buku sebagai Upaya Penyadaran
Dengan membagikan Broken Strings secara cuma-cuma, Aurelie menegaskan bahwa tujuannya melampaui kepentingan pribadi. Ia ingin pola hubungan toksik dapat dikenali lebih luas, terutama oleh mereka yang mungkin berada dalam posisi rentan seperti dirinya satu dekade lalu.
“Ini kisahku, traumaku, tapi juga kesembuhanku,” tulis Aurelie dalam bagian penutup buku.
Ia menekankan bahwa meninggalkan hubungan yang merusak bukanlah bentuk kegagalan, melainkan tindakan untuk menjaga dan menghargai diri sendiri.
Melalui pengalaman yang ia bagikan, Aurelie mengingatkan bahwa kekerasan dalam hubungan tidak selalu hadir dalam bentuk fisik. Intimidasi, kontrol, dan manipulasi psikologis sering kali berlangsung tanpa tanda kasatmata dan meninggalkan luka yang jauh lebih sulit dipulihkan.
Broken Strings menjadi pengingat bagi orang tua dan remaja untuk lebih peka terhadap tanda-tanda grooming sejak dini. Relasi yang sehat tidak seharusnya mengekang, apalagi dibangun di atas rasa takut dan ancaman.
Bagi pembaca yang ingin mengikuti perjalanan lengkap Aurelie Moeremans dalam proses memulihkan dirinya, memoir Broken Strings dapat diakses melalui tautan yang tersedia di profil Instagram resminya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News