Banner Internal

Dokter Muda Tewas Diduga Usai Diintimidasi, Golkar Janji Bongkar Peran Kader DPRD yang Terseret Kasus

Dokter Muda Tewas Diduga Usai Diintimidasi, Golkar Janji Bongkar Peran Kader DPRD yang Terseret Kasus

Golkar menyelidiki dugaan keterlibatan kader DPRD TTU dalam kasus intimidasi dokter Icha. Polisi dan Kemenkes masih mengusut penyebab kematian korban.-Foto: IG @kabargolkar-

JAKARTA, PostingNews.id – Kematian dokter muda Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dokter Icha terus memunculkan gelombang perhatian publik. Di tengah proses penyelidikan polisi, Partai Golkar kini ikut bergerak setelah salah satu kadernya diduga terseret dalam kasus intimidasi yang disebut-sebut menjadi pemicu korban mengalami tekanan psikologis sebelum ditemukan meninggal dunia.

Sekretaris Jenderal Partai Golkar Muhammad Sarmuji mengatakan partainya akan terlebih dahulu mendalami seluruh informasi yang beredar sebelum mengambil langkah terhadap kader yang bersangkutan. Menurutnya, keputusan organisasi tidak bisa didasarkan hanya pada satu versi cerita.

"Kami juga harus mendengarkan penjelasan dari kedua belah pihak. Apakah benar terjadi intimidasi dan apakah intimidasi itu memang berujung pada keputusan seseorang melakukan tindakan seperti yang terjadi kemarin," kata Sarmuji di Kompleks DPR, Jakarta, Senin, 29 Juni 2026.

Ia menjelaskan Dewan Pimpinan Daerah Golkar Nusa Tenggara Timur telah diminta segera memanggil anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara yang namanya dikaitkan dengan dugaan intimidasi tersebut. Langkah itu dilakukan untuk memperoleh gambaran utuh mengenai peristiwa yang sebenarnya terjadi.

Sarmuji menegaskan setiap kader Golkar selalu diingatkan agar menjaga sikap saat menjalankan jabatan. Meski begitu, ia mengakui tidak semua kader mampu menjaga perilaku sesuai norma.

BACA JUGA:Lima Nyawa Melayang di Latihan Kopdes, Puan Minta Gaya Militer Jangan Sampai Kebablasan Lagi

"Jangan hanya karena memiliki jabatan tinggi lalu bersikap tidak pantas kepada orang lain," ujarnya.

Kasus ini bermula ketika dokter Icha ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di lantai dua rumahnya di Perumahan RSS Baumata, Desa Baumata Barat, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada Jumat, 26 Juni 2026.

Kapolres Kupang Ajun Komisaris Besar Rudy Junus Jacob Ledo mengatakan korban pertama kali ditemukan tergantung menggunakan seutas tali di depan pintu kamar.

"Saat ditemukan, korban sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan," ujar Rudy.

Hasil pemeriksaan luar terhadap jenazah menunjukkan adanya bekas jeratan pada bagian leher yang diduga berkaitan dengan penyebab kematian. Polisi juga menyatakan tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.

"Selain itu, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan," katanya.

BACA JUGA:Prabowo Kerahkan Guru Besar dan Peneliti, Kampus Diminta Jangan Cuma Jadi Pabrik Ijazah

Dugaan sementara, korban mengalami depresi setelah menerima intimidasi ketika bertugas di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Leona Kefamenanu. Dugaan intimidasi itu mengarah kepada tiga anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara, salah satunya merupakan kader Partai Golkar. Dugaan tersebut juga telah dikonfirmasi Kementerian Kesehatan.

Kapolres Timor Tengah Utara Ajun Komisaris Besar Eliana Papote mengatakan penyidik masih terus mengumpulkan berbagai fakta untuk mengungkap penyebab pasti kematian dokter Icha.

"Penyidik terus bekerja mengumpulkan fakta-fakta," ujarnya.

Di sisi lain, Kementerian Kesehatan turut menurunkan tim investigasi dengan menggandeng Ikatan Dokter Indonesia guna menelusuri secara menyeluruh latar belakang peristiwa tersebut.

Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan Kementerian Kesehatan Yuli Farianti mengatakan investigasi dilakukan agar penyebab kejadian itu dapat diketahui secara utuh.

"Kami ingin melihat secara mendalam apa yang sebenarnya terjadi," kata Yuli saat menghadiri pemakaman dokter Icha pada Senin, 29 Juni 2026.

Menurut Yuli, kasus ini harus menjadi pengingat bahwa tenaga kesehatan berhak bekerja tanpa tekanan maupun ancaman saat memberikan pelayanan kepada masyarakat.

"Mereka bekerja sesuai standar operasional prosedur dan tidak boleh mendapatkan intimidasi atau tekanan dari pihak mana pun," ujarnya.

Kementerian Kesehatan juga meminta seluruh tenaga kesehatan tidak ragu melaporkan setiap bentuk intimidasi yang dialami. Rumah sakit dan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan didorong memberikan perlindungan maksimal kepada tenaga medis, sementara dinas kesehatan di daerah diminta memperkuat koordinasi agar kasus serupa tidak kembali terulang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Share

Berita Terkait