Trump Bilang Damai Tinggal Dua Hari, Ujungnya Malah Blokade Laut dan Bikin Dunia Makin Panas
Trump sempat klaim damai Iran dekat, tapi malah perintahkan blokade Selat Hormuz dan picu ketegangan global makin panas--Google
JAKARTA, PostingNews.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan yang bikin publik garuk kepala. Di tengah konflik panas dengan Iran, ia sempat bicara soal peluang damai dalam hitungan hari. Tapi belum juga reda, arah kebijakannya justru berubah tajam.
Dalam wawancara lewat sambungan telepon dengan New York Post di Islamabad, Selasa, Trump sempat menyebut peluang perundingan dengan Iran bisa segera terjadi. “Sesuatu bisa terjadi dalam dua hari ke depan,” kata Trump.
Ia bahkan memuji peran militer Pakistan dalam upaya tersebut. “Anda tahu kenapa? Karena marsekal lapangan melakukan pekerjaan yang hebat,” ujarnya.
Trump merujuk pada Jenderal Asim Munir yang disebut memiliki kedekatan dengannya, terutama dalam upaya mediasi konflik Pakistan dan India sebelumnya. “Dia luar biasa, dan karena itu kemungkinan besar kami akan kembali ke sana,” kata Trump.
Namun pernyataan optimistis itu tak bertahan lama. Hanya selang sekitar satu jam, Trump justru memberi sinyal berbeda terkait lokasi dan arah perundingan. “Kami mungkin akan pergi ke lokasi lain. Kami sudah mulai memikirkan lokasi lain untuk perundingan,” ujarnya.
Perubahan sikap dalam waktu singkat ini memunculkan tanda tanya besar soal konsistensi arah diplomasi Washington.
Seorang pejabat Gedung Putih mengonfirmasi bahwa pembicaraan lanjutan dengan Iran memang masih dalam tahap pertimbangan. Namun hingga kini belum ada jadwal pasti. “Pembicaraan selanjutnya sedang dibahas tetapi belum ada yang dijadwalkan saat ini,” kata pejabat tersebut.
Di sisi lain, Iran juga belum menunjukkan tanda-tanda sepakat melanjutkan perundingan. Sumber dari Teheran menyebut komunikasi dengan Pakistan masih berlangsung, tapi belum ada titik temu untuk putaran berikutnya.
Sebelumnya, delegasi Iran dan Amerika Serikat sempat menggelar pertemuan langsung yang jarang terjadi di Islamabad pada Sabtu. Pertemuan itu bertujuan meredakan konflik, namun berakhir tanpa kesepakatan sehari kemudian.
BACA JUGA: Bus Berekum Chelsea Diserang Perampok: Bintang Muda Dominic Frimpong Tewas Tertembak
Sementara itu, dampak perang terus membesar. Lebih dari 3.300 orang dilaporkan tewas akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari. Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone ke sejumlah wilayah, termasuk Israel, Irak, Yordania, hingga negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Konflik ini juga mengguncang pasar energi global. Ketegangan di Selat Hormuz membuat harga minyak dunia terdorong naik, bahkan berpotensi menembus USD 100 (Rp1.690.000) per barel.
Ironisnya, ketika jalur diplomasi belum membuahkan hasil, Trump justru mengambil langkah konfrontatif dengan memerintahkan Angkatan Laut AS memblokade jalur maritim strategis tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
